<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>MASA TUNGGU SUAMI PASCAPERCERAIAN DAN&#13;
PASCAKEMATIAN ISTRI PANDANGAN PENGHULU&#13;
ATAS SURAT EDARAN DIRJEN BIMAS ISLAM DAN&#13;
PASAL 170 AYAT (2) KHI</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Hana Zaida Salwa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Fatma Amilia</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ermi Suhasti Syafei</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Surat Edaran Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tentang Pernikahan dalam Masa Idah Istri&#13;
dan Pasal 170 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam (KHI) memunculkan diskursus di masyarakat karena&#13;
dianggap menghadirkan konsep syibhul ‘iddah atau semacam masa idah bagi laki-laki pascaperceraian—&#13;
suatu ketentuan yang berbeda dari konsep idah dalam fikih Islam yang secara khusus diwajibkan bagi&#13;
perempuan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pandangan para penghulu Kantor Urusan Agama&#13;
(KUA) di Kota Yogyakarta terhadap kedua ketentuan tersebut beserta alasan yang melatarbelakanginya.&#13;
Penelitian menggunakan pendekatan yuridis empiris dengan metode wawancara terpusat (focused&#13;
interview) terhadap 5 penghulu KUA di Kota Yogyakarta sebagai sumber data primer, didukung data&#13;
sekunder berupa peraturan perundang-undangan, buku, dan jurnal terkait, serta dianalisis menggunakan&#13;
teori kesetaraan gender dan sadd aż-żarī’ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pandangan penghulu&#13;
terhadap ketentuan syibhul ‘iddah dalam Surat Edaran bersifat beragam: sebagian mendukung karena&#13;
dinilai mencegah poligami terselubung, memberi ruang refleksi pascaperceraian, dan menegaskan&#13;
kesetaraan gender, sementara sebagian lain menolak karena dianggap tidak memiliki dasar hukum kuat dan&#13;
potensi poligami terselubung dinilai masih spekulatif. Pandangan serupa juga muncul terhadap Pasal 170&#13;
ayat (2) KHI, di mana penghulu pada dasarnya mengakui perlunya masa berkabung bagi suami yang&#13;
ditinggal mati istri, namun terjadi perbedaan pandangan mengenai penyeragaman masa berkabung akibat&#13;
frasa “kepatutan” yang multitafsir. Perbedaan pandangan tersebut dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan,&#13;
antara lain perkembangan hukum, kesejahteraan psikologis perempuan, kebutuhan biologis dan sosial&#13;
manusia akan pasangan hidup, tanggung jawab terhadap anak, serta pemahaman terhadap poligami sebagai&#13;
hak yang diakui dalam agama.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">305.3 Gender</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Monograph</mods:genre></mods:mods>