    {
      "subjects": [
        "KA"
      ],
      "eprintid": 77583,
      "date": 2024,
      "userid": 12253,
      "documents": [
          {
            "language": "id",
            "placement": 1,
            "eprintid": 77583,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-07-21 04:38:07",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1850825,
                  "objectid": 1067653,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1850825",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "d8afe437a01983e978d784b7692a521e",
                  "filesize": 3496082,
                  "filename": "al-wujuh wa an-nazair.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 5,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1067653",
            "main": "al-wujuh wa an-nazair.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1067653,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 3,
            "formatdesc": "AL-WUJUH WA AN-NAZA’IR MENYELAMI KERAGAMAN & KEUNIKAN MAKNA AYAT AL-QUR’AN"
          },
          {
            "language": "id",
            "placement": 4,
            "eprintid": 77583,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-07-21 04:40:21",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1850831,
                  "objectid": 1067654,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1850831",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "a1235cb1957fa945491256ef3a800a6d",
                  "filesize": 21077,
                  "filename": "surat-surat-pernyataan1784608748.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1067654",
            "main": "surat-surat-pernyataan1784608748.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1067654,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 4,
            "formatdesc": "Surat Pernyataan"
          }
      ],
      "rev_number": 18,
      "creators": [
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "-",
            "honourific": null,
            "family": "Tulus Musthofa,"
          }
        }
      ],
      "dir": "disk0\/00\/07\/75\/83",
      "keywords": "al-wujuh wa an-nazair, Linguistik, Ayat Al Qur'an, Sastra Arab",
      "lastmod": "2026-07-21 04:40:21",
      "ispublished": "pub",
      "isbn": "978-623-484-152-",
      "publisher": "Idea Press",
      "metadata_visibility": "show",
      "date_type": "published",
      "eprint_status": "archive",
      "status_changed": "2026-07-20 02:28:52",
      "datestamp": "2026-07-20 02:28:52",
      "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/eprint\/77583",
      "full_text_status": "public",
      "refereed": "TRUE",
      "divisions": [
        "a-buku"
      ],
      "abstract": "Dalam ilmu al-Qur’ān, al-musytarak al-lafẓī dibahas dalam ‘ilm \r\nal-wujūh wa an-naẓā’ir. Ilmu ini termasuk ke dalam cabang ilmu \r\ntafsir. Para pakar mendefinisikan al-wujūh wa an-naẓā’ir sebagai \r\nsuatu kata yang disebutkan di dalam berbagai tempat di dalam al\r\nQur’ān, dengan ucapan dan harakat yang sama tapi kata tersebut \r\nmemiliki makna yang berbeda di setiap tempatnya. Oleh karena itu, \r\nucapan setiap kata yang disebutkan di tempat yang sepadan dengan \r\nucapan kata yang sama di tempat yang lain—itulah yang disebut \r\ndengan an-naẓā’ir. Adapun tafsiran setiap kata dengan maknanya \r\nyang berbeda, itulah yang dinamakan al-wujūh. Jadi, an-naẓā’ir \r\nmerupakan nama untuk ucapan, sedangkan al-wujūh merupakan \r\nsebutan bagi makna. Karya yang berhubungan dengan masalah ini \r\ndikenal dengan nama al-wujūh wa an-naẓā’ir walaupun tidak mesti \r\nmenggunakan nama tersebut.\r\nPara ulama umumnya menyusun al-wujūh wa an-naẓā’ir \r\nmenggunakan paradigma, metode dan pendekatan yang sama. \r\nDari satu penulis ke penulis yang lain melakukannya, baik dari \r\nsegi pengambilan kata-kata al-Qur’ān yang dijadikan kajian, \r\nurutan penyusunan, maupun wujūh dengan setiap kalimat menjadi \r\nberbagai makna dalam wujūh tersebut. Oleh karena itu, kitab-kitab \r\nal-wujūh wa an-naẓā’ir lebih mencerminkan sebagai kamus spesial \r\ntentang kata-kata al-Qur’ān yang bermakna ganda Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi adanya \r\nal-musytarak al-lafẓī dalam al-Qur’ān, yakni kalangan yang \r\nsepenuhnya menolak, menerima sepenuhnya, dan yang mengakui \r\nkeberadaannya secara proporsional. Demikian juga antara \r\npihak yang menganggap al-musytarak al-lafẓī sebagai bentuk \r\nkemukjizatan al-Qur’ān, ada pula yang beranggapan sebaliknya Perbedaan para ulama tentang ada dan tidaknya al-musytarak \r\nal-lafẓī  terletak pada cara pandangnya. Yang melihat makna dari \r\nsisi hanya teori penggunaan berkesimpulan bahwa al-musytarak \r\nal-lafẓī banyak ditemukan. Adapun yang melihat makna dari sisi \r\nteori bahwa satu kata satu makna, maka bahasa berfungsi ibānah. \r\nJika satu kata memiliki lebih dari satu makna, maka fungsi ibānah \r\nmenjadi berkurang. Dari sini setiap kata musytarak perlu ditelusuri: \r\napakah antara makna-makna yang ada itu berada pada tingkat, \r\nkonteks dan waktu yang sama ataukah tidak. \r\nPendapat lain menyebutkan bahwa perbedaan pendapat terkait \r\nada dan tidak adanya al-musytarak al-lafẓī adalah bukti bahwa \r\nfungsi deskripsi bahasa itu ada keterbatasannya. “Kata-kata memiliki keterbatasan, sedangkan makna-makna \r\ntidak. Maka penggunaan majāz menjadi solusi untuk permasalahan \r\ntersebut.”\r\nBanyak teori dirumuskan para pakar semantik tentang al\r\nmusytarak al-lafẓī. Salah satunya dirumuskan oleh Muḥammad \r\nNuruddin al-Munajjid yang mendefinisikan al-musytarak al\r\nlafẓī sebagai setiap kata mufrad dengan urutan huruf-huruf dan \r\nharakatnya menunjukkan secara spesifik dua makna atau lebih, \r\ndalam lingkungan yang satu, pada masa yang satu, dan di antara \r\nmakna-makna tersebut tidak ada ikatan arti ataupun balāghah.\r\nTeori ini telah digunakan al-Munajjid dalam menganalisis \r\nkata-kata al-wujūh wa an-naẓā’ir, sejauh mana memenuhi kriteria \r\nal-musytarak al-lafẓī yang ditikberatkan pada aspek wujūh. Penulis \r\nmenganalisis aspek yang belum dianalisis oleh al-Munajjid, yaitu an-naẓā’ir yang merupakan salah satu dari dua sisi yang \r\nmenentukan apakah suatu kata yang selama ini diindikasikan oleh \r\nulama al-wujūh wa an-naẓā’ir sebagai al-musytarak al-lafẓī betul\r\nbetul ada, di samping juga menguatkan analisis al-wujūh dengan \r\nfokus pada faktor balāghah. \r\nBerdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa kata\r\nkata yang termuat di dalam buku al-wujūh wa an-naẓā’ir setelah \r\ndikritisi dan dilakukan pembahasan mendalam pada umumnya \r\nternyata tidak terbukti sebagai musytarak al-lafẓī Setelah dilakukan \r\npenelitian kata-kata tersebut, pada umumnya tidak memenuhi \r\nkriteria sebagai kata musytarak, baik dari aspek al-wujūh maupun \r\nan-naẓā’ir. Akan tetapi, perbedaan makna yang ada lebih cenderung \r\ndisebabkan oleh beberapa faktor-faktor di luar kata tersebut.\r\nAtas dasar ini, kitab-kitab tentang al-wujūh wa an-naẓā’ir \r\ndapat dikategorikan sebagai karya yang cenderung masuk dalam \r\nbidang kajian tafsir dan takwil yang khusus membahas pengertian\r\npengertian umum suatu kata sesuai dengan konteksnya atau sebab \r\nfaktor-faktor lain. Karya-karya tersebut tidak penulis masukkan \r\ndalam kategori bidang kajian bahasa yang membahas tentang \r\nperincian makna suatu kata sesuai dengan penggunaannya.\r\nDi antara faktor yang mempengaruhi makna ganda yang ada \r\ndalam al-wujūh wa an-naẓā’ir adalah penggunaan bentuk-bentuk \r\nal-istikhdām al-balāgī (retorika) yang meliputi: al-majāz al-mursal \r\n(majaz); al-isti‘ārah (kiasan); (al-kināyah (sindiran\/metonimi); \r\ntakhsīs al-ām (pengkhususan makna umum).\r\nAntara al-musytarak al-lafẓī dan al-wujūh wa an-naẓā’ir \r\nmemang ada persamaanya dalam hal makna ganda tapi masing\r\nmasing mempunyai karakter kebahasaan yang berbeda. Dari temuan-temuan di atas, penulis menilai bahwa fenomena \r\nbahasa dalam al-Qur’ān betapapun telah banyak dikaji dari satu \r\ngenerasi ke generasi yang lain, ternyata masih banyak menyimpan \r\nmisteri yang menjadi lahan yang subur bagi para peneliti. Oleh \r\nkarena itu, fenomena ini hendaknya mendorong adanya spesialiasi \r\nkebahasaan dalam al-Qur’ān dengan paradigma keilmuan yang \r\nlebih lengkap. Di sisi lain, hendaknya karya-karya yang begitu \r\nbanyak dalam bidang kebahasaan al-Qur’ān dengan paradigma \r\nteori yang sama tidak menjadikan para peneliti menganggap \r\nsesuatu yang final yang tidak lagi bisa didiskusikan.\r\nPerkembangan linguistik, khususnya dalam bidang semantik \r\nyang begitu cepat, hendaklah dapat memperkaya studi bahasa Arab \r\ntermasuk di dalamnya bahasa Arab yang terkandung dalam al\r\nQur’ān. Kajian semantik modern bagi peneliti bidang bahasa Arab \r\nhendaknya diimbangi dengan kajian mendalam terhadap linguistik \r\nbahasa Arab mengingat kekayaan khazanah kebahasaan dalam \r\nbahasa Arab sedemikian rupa besarnya dalam menyumbangkan \r\nilmu kebahasaan bahkan banyak mengilhami berbagai teori \r\nkebahasaan modern, baik langsung maupun tidak langsung.\r\nSudah waktunya agar fenomena kebahasaan al-Qur’ān \r\ndijadikan suatu bidang mata kuliah tersendiri agar mahasiswa \r\nterlatih dalam sensitivitas kebahasaan mereka terhadap fenomena \r\ntersebut yang pada akhirnya akan membantu kemampuan \r\nmemahami ayat-ayat al-Qur’ān lebih mendalam. Sudah saatnya \r\njuga di kalangan Perguruan Tinggi Agama Islam untuk mendirikan \r\nPusat Kajian al-Qur’ān yang akan mengkaji berbagai aspek dalam \r\nKitab Suci ini, termasuk di dalamnya aspek kebahasaan",
      "type": "book",
      "title": "AL-WUJUH WA AN-NAZA’IR MENYELAMI KERAGAMAN & KEUNIKAN MAKNA AYAT AL-QUR’AN",
      "place_of_pub": "Yogyakarta"
    }