<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>GENEALOGI CITRA ASIYAH DALAM KITAB TAFSIR AL-QUR’AN NUSANTARA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031056</mods:namePart><mods:namePart type="family">Opi Yensi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Adapun teori yang digunakan adalah genealogi tafsir Walid Saleh, yang menekankan pentingnya melihat hubungan antara teks tafsir, tradisi keilmuan, dan konteks sosial yang melingkupi mufasir. Objek material penelitian ini adalah penafsiran kisah Asiyah dalam enam kitab tafsir Al-Qur’an Nusantara, yaitu Tarjuman Al-Mustafid karya Abdurrauf As-Singkili, Tafsir Al-Qur’an karya Zainuddin et al., Tafsir An-Nur karya T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Azhar karya Hamka, Tafsir Al-Misbah karya M.&#13;
vii&#13;
Quraish Shihab, dan Tafsir Hidayatul Insan karya Marwan bin Musa. Analisis dilakukan dengan menelusuri sumber rujukan, struktur penulisan, serta konteks sosial, politik, budaya, dan intelektual yang memengaruhi masing-masing mufasir.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra Asiyah dalam tafsir Al-Qur’an Nusantara terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu figur pasif dan figur aktif. As-Singkili, Zainuddin et al., dan Marwan bin Musa cenderung menampilkan Asiyah sebagai figur pasif yang berfokus pada kesabaran, keteguhan iman, dan keteladanan spiritual. Sebaliknya, Hasbi Ash-Shiddieqy, Hamka, dan Quraish Shihab menampilkan Asiyah sebagai figur aktif yang memiliki kesadaran spiritual, keberanian moral, serta kemampuan menentukan sikap di tengah tekanan kekuasaan. Pergeseran citra tersebut dipengaruhi oleh faktor tafsir berupa sumber rujukan dan struktur penulisan, serta faktor non-tafsir berupa kondisi sosial, politik, budaya, dan latar intelektual para mufasir. Penelitian ini juga menemukan bahwa konstruksi citra Asiyah dalam keenam tafsir masih didominasi perspektif laki-laki, belum banyak mengembangkan pembacaan berbasis gender dan emansipasi perempuan, serta lebih menekankan kesalehan individual dibandingkan dimensi sosial-politik. Dengan demikian, citra Asiyah dalam tafsir Nusantara merupakan hasil negosiasi antara teks Al-Qur’an, tradisi tafsir, dan konteks mufasir yang terus berkembang sesuai kebutuhan zamannya.&#13;
Kata Kunci: Genealogi Tafsir, Citra Asiyah, Tafsir Al-Qur’an Nusantara.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Ilmu Alqur’an dan Tafsir </mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-26</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>