TY - THES N1 - Dr. Siti Khodijah Nurul Aula, M.Ag. ID - digilib77586 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77586/ A1 - Lalu Banu Rige, NIM.: 20105020002 Y1 - 2026/05/29/ N2 - Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pandangan pemuda Islam terhadap masyarakat Hindu dengan menggunakan pendekatan disonansi kognitif di lingkungan Getap Timur, Kota Mataram, Pulau Lombok. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada keberagaman agama yang hidup berdampingan dalam satu wilayah, sehingga berpotensi menimbulkan perbedaan persepsi, sikap, dan interaksi sosial. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori disonansi kognitif digunakan untuk memahami bagaimana pemuda Islam menyikapi ketidaksesuaian antara keyakinan, nilai agama, dan realitas sosial yang mereka hadapi dalam interaksi dengan masyarakat Hindu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beragam pandangan, mulai dari sikap toleransi hingga munculnya konflik batin akibat perbedaan keyakinan. Pandangan hubungan pemuda muslim secara umum terhadap masyarakat Hindu sesuai pernyataan dari kelima informan yaitu Ali, Iwan, Ramdoni, Sendi dan Arbin adalah rukun, damai, aman, harmonis, toleran dan tertib.Artinya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antaragama di Lingkungan Getap, Mataram telah berdiri di atas fondasi kuat berupa saling percaya, saling menghormati, dan kebiasaan bekerja sama, sehingga relasi antarumat beragama tidak mudah tergoyahkan oleh perbedaan atau isu pemecah-belah, yang pada akhirnya menjamin kehidupan bersama tetap tenang, tertib, dan damai dalam jangka panjang. Faktor kepentingan di disonansi kognitif dari kelima informan yaitu ada 3, yang pertama dari saudara Ali dan Sendi yang mana faktor kepentingan ini termasuk kewajiban memegang aturan halal dan haram. Kedua dari pernyataan saudara Ramdoni yang menunjukkan faktor kepentingan ini sebagai kepentingan beribadah/berbudaya dan kepentingan kenyamanan pribadi. Faktor kepentingan ketiga dari Arbin dinilai cukup penting bagi diri seseorang, yaitu cara ia menilai dan memperlakukan pemeluk agama lain. Faktor kedua yang memengaruhi tingkat disonansi kognitif adalah rasio disonansi, yaitu perbandingan antara disonan (yang bertentangan dengan keyakinan atau perilaku) terhadap kognisi konsonan (yang mendukungnya) dalam interaksi sosial. Di lingkungan Getap, Mataram, Lombok, pemuda Islam sering menghadapi rasio disonansi tinggi ketika keyakinan keagamaan mereka bertabrakan dengan realitas multikultural bersama masyarakat Hindu, seperti dalam tradisi bersama atau perbedaan nilai budaya. Faktor Rasionalitas disonansi kognitif dari berdasarkan pernyataan dari kelima informan adalah sebagai berikut: pertama dari pernyataan saudara Ali disebut terkait faktor rasionalitas dalam disonansi kognitif karena ia memakai dasar berpikir yang logis dan masuk akal untuk menyikapi perbedaan agama. Kedua pernyataan saudara Iwan menunjukkan upaya rasional untuk mengurangi atau mencegah disonansi kognitif. Ketiga dari pernyataan saudara Ramdoni mencerminkan adanya rasionalitas dalam merespons dan mengurangi disonansi kognitif. Pernyataan keempat dari saudara Sendi menunjukkan penggunaan rasionalitas untuk menjaga konsistensi antara keyakinan dan sikap dalam situasi perbedaan. Terakhir, Pernyataan Arbin menggambarkan penggunaan rasionalitas untuk meredakan atau mencegah disonansi kognitif dalam hubungan antarumat beragama. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Islam; Hindu; disonansi kognitif; konflik batin M1 - skripsi TI - PANDANGAN PEMUDA ISLAM TERHADAP MASYARAKAT HINDU (ANALISIS DISONANSI KOGNITIF DI LINGKUNGAN GETAP TIMUR, MATARAM, LOMBOK) AV - restricted EP - 103 ER -