@phdthesis{digilib77600, month = {June}, title = {DINAMIKA FUNGSI MAN DAN M{\=A} DALAM AL-QUR?AN: ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 22105030054 Wafina Rahmatika Salimah}, year = {2026}, note = {Dr. Mahbub Ghozali}, keywords = {Semantik Al-Qur?an, Toshihiko Izutsu, Man}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77600/}, abstract = {Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anomali linguistik berupa pertukaran fungsi dalam penggunaan man ( ?? ? ) dan m{\=a} ( ??? ) sebagai kata hubung dalam al-Qur?an. Secara konvensional-normatif dalam gramatika Arab klasik, man mutlak diperuntukkan bagi entitas berakal (li al-?{\=a}qil), sedangkan m{\=a} untuk entitas tidak berakal (li ghair al- ?{\=a}qil). Namun, teks Al-Qur?an secara paradoks menggunakan man pada konteks nonberakal{--} seperti merujuk pada berhala dan taksonomi hewan (d{\=a}bbah){--}serta menggunakan m{\=a} pada konteks berakal, termasuk merujuk pada perempuan, janin, hingga zat transenden Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar pengaruh konteks makro-mikro terhadap pergeseran fungsi tersebut serta mengungkap Weltanschauung (pandangan dunia) yang dibangun Al-Qur?an di balik pemilihan diksi tersebut. Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menjadikan teks Al-Qur'an sebagai objek material utama. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semantik Al-Qur?an yang digagas oleh Toshihiko Izutsu untuk melacak makna dasar (basic meaning) dan makna relasional (relational meaning) secara sinkronik-diakronik dengan memetakan kronologi teks dari periode pra-Qur?anik (Syair Jahiliyyah) hingga periode Qur?anik (Makkiyyah dan Madaniyyah). Selain itu, tipologi penafsiran Muhammad Husain A{\.z}{\.Z}ahab{\^i} digunakan untuk memetakan dinamika resepsi para mufassir terdahulu terhadap ayat-ayat anomali tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, dinamika penafsiran klasik hingga kontemporer cenderung mendekati anomali ini melalui kacamata teologis, hukum, kesusastraan, dan sufistik yang memunculkan konsep implisit seperti penyucian (tanz{\=i}h) atau peleburan makna. Kedua, analisis sinkronik pada syair Jahiliyyah mengonfirmasi bahwa batas fungsi man dan m{\=a} pada masa pra-Qur?anik sudah bekerja secara rigid sebagai cerminan kognisi Arab yang antroposentris. Ketiga, analisis diakronik menunjukkan bahwa Al-Qur'an melakukan rekayasa konseptual yang revolusioner. Pada periode Makkiyyah, man digunakan secara normatif untuk mengonstruksi kedaulatan manusia guna mendobrak fatalisme Jahiliyyah. Sementara pada periode Madaniyyah, penggunaan non-normatif bekerja melalui dua arah: sebagai kritik radikal atas nalar oportunistis kaum musyrik (QS. Al-{\d H}ajj [22]: 13) yang tersambung dengan konteks transaksional ayat 11, dan sebagai manuver linguistik dalam QS. An-N{\=u}r [24]: 45 yang digerakkan oleh dominasi unsur agensi manusia untuk menggambarkan kesatuan eksistensial ragam makhluk hidup di hadapan poros penciptaan Allah Swt. Kata Kunci: Semantik Al-Qur?an, Toshihiko Izutsu, Man dan M{\=a}, Weltanschauung.} }