<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>DINAMIKA FUNGSI MAN DAN MĀ DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS SEMANTIK TOSHIHIKO IZUTSU</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105030054</mods:namePart><mods:namePart type="family">Wafina Rahmatika Salimah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya anomali linguistik berupa pertukaran&#13;
fungsi dalam penggunaan man ( مَ ن ) dan mā ( مَا ) sebagai kata hubung dalam al-Qur’an.&#13;
Secara konvensional-normatif dalam gramatika Arab klasik, man mutlak diperuntukkan&#13;
bagi entitas berakal (li al-‘āqil), sedangkan mā untuk entitas tidak berakal (li ghair al-&#13;
‘āqil). Namun, teks Al-Qur’an secara paradoks menggunakan man pada konteks nonberakal—&#13;
seperti merujuk pada berhala dan taksonomi hewan (dābbah)—serta&#13;
menggunakan mā pada konteks berakal, termasuk merujuk pada perempuan, janin,&#13;
hingga zat transenden Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar pengaruh&#13;
konteks makro-mikro terhadap pergeseran fungsi tersebut serta mengungkap&#13;
Weltanschauung (pandangan dunia) yang dibangun Al-Qur’an di balik pemilihan diksi&#13;
tersebut.&#13;
Penelitian kualitatif berbasis studi pustaka ini menjadikan teks Al-Qur'an sebagai&#13;
objek material utama. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan semantik Al-Qur’an&#13;
yang digagas oleh Toshihiko Izutsu untuk melacak makna dasar (basic meaning) dan&#13;
makna relasional (relational meaning) secara sinkronik-diakronik dengan memetakan&#13;
kronologi teks dari periode pra-Qur’anik (Syair Jahiliyyah) hingga periode Qur’anik&#13;
(Makkiyyah dan Madaniyyah). Selain itu, tipologi penafsiran Muhammad Husain AżŻahabî&#13;
digunakan untuk memetakan dinamika resepsi para mufassir terdahulu terhadap&#13;
ayat-ayat anomali tersebut.&#13;
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, dinamika penafsiran klasik&#13;
hingga kontemporer cenderung mendekati anomali ini melalui kacamata teologis,&#13;
hukum, kesusastraan, dan sufistik yang memunculkan konsep implisit seperti penyucian&#13;
(tanzīh) atau peleburan makna. Kedua, analisis sinkronik pada syair Jahiliyyah&#13;
mengonfirmasi bahwa batas fungsi man dan mā pada masa pra-Qur’anik sudah bekerja&#13;
secara rigid sebagai cerminan kognisi Arab yang antroposentris. Ketiga, analisis&#13;
diakronik menunjukkan bahwa Al-Qur'an melakukan rekayasa konseptual yang&#13;
revolusioner. Pada periode Makkiyyah, man digunakan secara normatif untuk&#13;
mengonstruksi kedaulatan manusia guna mendobrak fatalisme Jahiliyyah. Sementara&#13;
pada periode Madaniyyah, penggunaan non-normatif bekerja melalui dua arah: sebagai&#13;
kritik radikal atas nalar oportunistis kaum musyrik (QS. Al-Ḥajj [22]: 13) yang&#13;
tersambung dengan konteks transaksional ayat 11, dan sebagai manuver linguistik dalam&#13;
QS. An-Nūr [24]: 45 yang digerakkan oleh dominasi unsur agensi manusia untuk&#13;
menggambarkan kesatuan eksistensial ragam makhluk hidup di hadapan poros&#13;
penciptaan Allah Swt.&#13;
Kata Kunci: Semantik Al-Qur’an, Toshihiko Izutsu, Man dan Mā, Weltanschauung.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Ilmu Alqur’an dan Tafsir </mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-02</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>