TY - THES N1 - Nur Edi Prabha Susila Yahya, S.Th.I., M.Ag. ID - digilib77602 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77602/ A1 - Muhammad Ulinnuha, NIM.: 22105030040 Y1 - 2026/03/16/ N2 - Kelompok Sunni menganggap bahwa wali Allah merupakan kedudukan yang sangat mulia dengan berbagai macam keistimewaan yang menyertainya, seperti memiliki kar?mah (kejadian luar biasa) serta ma?shum (keterjagaan dari dosa). Di sisi lain, kelompok Syi?ah Imamiyah memiliki keyakinan bahwa wali Allah merupakan bagian dari im?mah, yang memiliki beberapa sifat istimewa seperti ?ismah, ilmu laduni, serta kemampuan menerima petunjuk ilahi. Oleh karena itu, umat di kedua kelompok Islam tersebut seringkali memberikan penghormatan yang berlebihan terhadap orang-orang yang dipercaya sebagai wali Allah. Penelitian ini berusaha mengungkap narasi wali Allah dalam QS. Yunus [10]: 62 ditinjau dari sudut pandang mufassir kontemporer, yaitu Rasyid Ri?a dan Mu?ammad ?usain ?aba?aba?i. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis pengumpulan data yang berupa kepustakaan. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah tafsir dari QS. Yunus [10]:62 dalam Tafs?r Al-Man?r dan Al-M?z?n f? Tafs?r Al-Qur??n yang dikaji dengan metode deskriptif-analitis. Teori analisis wacana kritis (AWK) Teun A. van Dijk digunakan dalam proses analisis. Fokus penelitian ini terletak pada pandangan kedua tokoh tentang konsep wali Allah, latar konteks sosial-ideologisnya, serta persamaan dan perbedaan teologis-praktis konsep wali Allah. Terdapat beberapa temuan yang dihasilkan dari penelitian ini. Pertama, ditinjau dari latar konteks sosial-ideologis, Rasyid Ri?a dipengaruhi gerakan tajd?d, sehingga memaknai wali Allah secara praktis sebagai tingkat ketakwaan syariat yang terbuka bagi setiap mukmin. Sementara itu, latar belakang filsafat dan irfan membuat ?aba?aba?i lebih menekankan kualitas spiritual dan kedalaman batin seorang wali. Kedua, Rasyid Ri?a dan Mu?ammad ?usain ?aba?aba?i memahami konsep wali Allah dalam QS. Yunus [10]:62 sebagai hamba biasa yang dekat dengan Tuhan karena ketakwaan, bukan sosok ilahi. Perbedaannya, Ri?? menilai kedudukan ini terbuka bagi setiap mukmin yang taat, sedangkan ?aba?aba?i memandangnya sebagai tingkatan spiritual khusus yang lebih tinggi. Ketiga, Secara teologis-praktis, Rasyid Ri?a dan Mu?ammad ?usain ?aba?aba?i memandang bahwa wali Allah adalah hamba yang dekat dengan Allah karena iman dan takwa tanpa unsur keilahian. Secara lebih spesifik, Ri?? memandangnya sebagai derajat yang terbuka bagi setiap mukmin, sedangkan ?aba?aba?i memahaminya sebagai derajat spiritual khusus yang dicapai melalui kesempurnaan tauhid kepada Allah. Kata kunci: Wali Allah, Analisis Wacana Kritis, QS. Yunus [10]: 62, Sunni, Syi?ah Imamiyah. xi PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Wali Allah KW - Analisis Wacana Kritis KW - QS. Yunus [10]: 62 KW - Sunni KW - Syi?ah Imamiyah. M1 - skripsi TI - KARAKTERISTIK WALI ALLAH DALAM TRADISI SUNNI DAN SYIAH IMAMIYAH: ANALISIS PERBANDINGAN PENAFSIRAN RASYID RI?A DALAM TAFSIR AL-MANAR DAN MU?AMMAD ?USAIN ?ABA?ABA?I DALAM AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR?AN TERHADAP QS. YUNUS [10]:62 AV - restricted EP - 184 ER -