eprintid: 77602 rev_number: 13 eprint_status: archive userid: 12241 dir: disk0/00/07/76/02 datestamp: 2026-07-22 02:44:56 lastmod: 2026-07-22 02:44:56 status_changed: 2026-07-22 02:44:56 type: thesis metadata_visibility: show contact_email: sophanshofwan@gmail.com creators_name: Muhammad Ulinnuha, NIM.: 22105030040 title: KARAKTERISTIK WALI ALLAH DALAM TRADISI SUNNI DAN SYIAH IMAMIYAH: ANALISIS PERBANDINGAN PENAFSIRAN RASYID RIḌA DALAM TAFSIR AL-MANAR DAN MUḤAMMAD ḤUSAIN ṬABAṬABA’I DALAM AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN TERHADAP QS. YUNUS [10]:62 ispublished: pub subjects: iath divisions: jur_ial full_text_status: restricted keywords: Wali Allah, Analisis Wacana Kritis, QS. Yunus [10]: 62, Sunni, Syi’ah Imamiyah. note: Nur Edi Prabha Susila Yahya, S.Th.I., M.Ag. abstract: Kelompok Sunni menganggap bahwa wali Allah merupakan kedudukan yang sangat mulia dengan berbagai macam keistimewaan yang menyertainya, seperti memiliki karāmah (kejadian luar biasa) serta ma’shum (keterjagaan dari dosa). Di sisi lain, kelompok Syi’ah Imamiyah memiliki keyakinan bahwa wali Allah merupakan bagian dari imāmah, yang memiliki beberapa sifat istimewa seperti ‘ismah, ilmu laduni, serta kemampuan menerima petunjuk ilahi. Oleh karena itu, umat di kedua kelompok Islam tersebut seringkali memberikan penghormatan yang berlebihan terhadap orang-orang yang dipercaya sebagai wali Allah. Penelitian ini berusaha mengungkap narasi wali Allah dalam QS. Yunus [10]: 62 ditinjau dari sudut pandang mufassir kontemporer, yaitu Rasyid Riḍa dan Muḥammad Ḥusain Ṭabaṭaba’i. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis pengumpulan data yang berupa kepustakaan. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah tafsir dari QS. Yunus [10]:62 dalam Tafsīr Al-Manār dan Al-Mīzān fī Tafsīr Al-Qur’ān yang dikaji dengan metode deskriptif-analitis. Teori analisis wacana kritis (AWK) Teun A. van Dijk digunakan dalam proses analisis. Fokus penelitian ini terletak pada pandangan kedua tokoh tentang konsep wali Allah, latar konteks sosial-ideologisnya, serta persamaan dan perbedaan teologis-praktis konsep wali Allah. Terdapat beberapa temuan yang dihasilkan dari penelitian ini. Pertama, ditinjau dari latar konteks sosial-ideologis, Rasyid Riḍa dipengaruhi gerakan tajdīd, sehingga memaknai wali Allah secara praktis sebagai tingkat ketakwaan syariat yang terbuka bagi setiap mukmin. Sementara itu, latar belakang filsafat dan irfan membuat Ṭabaṭaba’i lebih menekankan kualitas spiritual dan kedalaman batin seorang wali. Kedua, Rasyid Riḍa dan Muḥammad Ḥusain Ṭabaṭaba’i memahami konsep wali Allah dalam QS. Yunus [10]:62 sebagai hamba biasa yang dekat dengan Tuhan karena ketakwaan, bukan sosok ilahi. Perbedaannya, Riḍā menilai kedudukan ini terbuka bagi setiap mukmin yang taat, sedangkan Ṭabaṭaba’i memandangnya sebagai tingkatan spiritual khusus yang lebih tinggi. Ketiga, Secara teologis-praktis, Rasyid Riḍa dan Muḥammad Ḥusain Ṭabaṭaba’i memandang bahwa wali Allah adalah hamba yang dekat dengan Allah karena iman dan takwa tanpa unsur keilahian. Secara lebih spesifik, Riḍā memandangnya sebagai derajat yang terbuka bagi setiap mukmin, sedangkan Ṭabaṭaba’i memahaminya sebagai derajat spiritual khusus yang dicapai melalui kesempurnaan tauhid kepada Allah. Kata kunci: Wali Allah, Analisis Wacana Kritis, QS. Yunus [10]: 62, Sunni, Syi’ah Imamiyah. xi date: 2026-03-16 date_type: published pages: 184 institution: UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA department: FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM thesis_type: skripsi thesis_name: other citation: Muhammad Ulinnuha, NIM.: 22105030040 (2026) KARAKTERISTIK WALI ALLAH DALAM TRADISI SUNNI DAN SYIAH IMAMIYAH: ANALISIS PERBANDINGAN PENAFSIRAN RASYID RIḌA DALAM TAFSIR AL-MANAR DAN MUḤAMMAD ḤUSAIN ṬABAṬABA’I DALAM AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN TERHADAP QS. YUNUS [10]:62. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA. document_url: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77602/1/22105030040_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf document_url: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77602/2/22105030040_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf