<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Menavigasi Risiko dan Ketidakpastian Masa Depan  Industri Pertambangan Asia Tenggara</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dewi Cahyani Pangestuti,</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ali Muktiyanto</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ira Geraldina</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Darmawan</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Transformasi energi global telah menggeser pusat gravitasi &#13;
ekonomi dunia. Di tengah dorongan menuju ekonomi rendah &#13;
karbon, kebutuhan akan mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan &#13;
unsur tanah jarang meningkat secara eksponensial. Dalam konteks &#13;
ini, kawasan Asia Tenggara khususnya negara-negara ASEAN yang &#13;
muncul sebagai aktor strategis yang tidak terelakkan. Namun, &#13;
besarnya peluang tersebut berjalan beriringan dengan kompleksitas &#13;
risiko yang tinggi: ketidakpastian regulasi, dinamika geopolitik, &#13;
keterbatasan institusional, serta volatilitas pasar yang semakin &#13;
intens.&#13;
Selama ini, manajemen risiko di banyak organisasi masih &#13;
diposisikan sebagai fungsi defensive sekadar instrumen kepatuhan &#13;
atau pelengkap tata kelola perusahaan. Buku ini berangkat dari &#13;
kegelisahan akademik sekaligus kebutuhan praktis untuk menantang &#13;
paradigma tersebut. Penulis menegaskan bahwa Enterprise Risk &#13;
Management (ERM) bukanlah beban administratif, melainkan &#13;
mekanisme strategis penciptaan nilai, khususnya di pasar negara &#13;
berkembang yang sarat ketidakpastian.&#13;
Kontribusi utama buku ini terletak pada pengembangan &#13;
Modified Enterprise Risk Management Index (MERMi), sebuah &#13;
kerangka pengukuran yang dirancang secara kontekstual untuk &#13;
menjawab karakteristik unik ekonomi berkembang di Asia Tenggara. &#13;
Dengan mengintegrasikan kerangka COSO dan indikator pasar &#13;
spesifik ASEAN, MERMi menawarkan pendekatan kuantitatif &#13;
terhadap aspek risiko yang selama ini dianggap sulit diukur. &#13;
Lebih jauh, buku ini menunjukkan bahwa efektivitas ERM sangat ditentukan oleh keberadaannya dalam ekosistem Modal Intelektual &#13;
yang mencakup modal manusia, struktural, dan relasional.&#13;
Melalui analisis empiris dan komparatif terhadap enam &#13;
negara utama ASEAN Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, &#13;
Vietnam, dan Filipina buku ini memetakan lanskap risiko regional &#13;
secara sistematis. Setiap negara dianalisis tidak hanya sebagai &#13;
entitas ekonomi, tetapi sebagai konfigurasi unik antara peluang, &#13;
kapasitas institusional, dan tingkat kematangan manajemen risiko. &#13;
Pendekatan ini memberikan perspektif yang lebih bernuansa bagi &#13;
pembaca dalam memahami Asia Tenggara, melampaui generalisasi &#13;
yang kerap ditemukan dalam literatur global.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">330 Ilmu Ekonomi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>CV. Adanu Abimata</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Book</mods:genre></mods:mods>