@phdthesis{digilib77691, month = {May}, title = {RELASI TAUHID DAN BIRR AL-WALIDAYN PERSPEKTIF TAFSIR AL-MANAR DAN TAFSIR AL-MISBAH}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205031098 Mustiadi Gafar Alifandi}, year = {2026}, note = {Prof. Dr. Muhammad, M. Ag.}, keywords = {tauhid; Birr al-Walidayn; Tafsir Al-Manar; Tafsir Al-Mi{\d s}ba{\d h}}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77691/}, abstract = {Penelitian tentang " Relasi Tauhid dan Birr Al-W{\=a}lidayn Perspektif Tafs{\=i}r Al-Man{\=a}r dan Tafs{\=i}r Al-Mi{\d s}b{\=a}{\d h}" ini berawal dari Indonesia dikenal sebagai negara yang religius, namun mengalami paradoks berupa tingginya religiusitas formal yang tidak selalu diikuti oleh kesalehan sosial. Kondisi ini berkaitan dengan melemahnya pemahaman realsai tauhid sebagai inti keimanan dan birr al-w{\=a}lidayn sebagai manifestasi etisnya, padahal Al-Qur?an secara konsisten menyandingkan keduanya dalam satu struktur ayat sebagai paradigma teologis-etis yang tidak terpisahkan. Namun, pemahaman relasi tersebut masih jarang dikaji secara komparatif dalam tafsir kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi tauhid dan birr al-W{\=a}lidayn dalam Tafs{\=i}r Al-Man{\=a}r dan Tafs{\=i}r Al-Mi{\d s}b{\=a}{\d h}, menemukan persamaan dan perbedaan penafsirannya, serta mengungkap relevansinya bagi masyarakat modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka (library research) serta metode komparatif (muq{\=a}rranah) yang dipadukan dengan teori (CDA), yang meliputi analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Kajian ini difokuskan pada penafsiran relasi tauhid dan birr al-w{\=a}lidayn dalam Tafs{\=i}r Al-Man{\=a}r dan Tafs{\=i}r Al-Mi{\d s}b{\=a}{\d h} terhadap tiga ayat, yaitu QS. al-Baqarah [2]: 83, QS. an-Nis{\=a}? [4]: 36, dan QS. al-An?{\=a}m [6]: 151. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tafsir sepakat menempatkan tau{\d h}{\=i}d sebagai fondasi ontologis yang secara niscaya melahirkan birr al-w{\=a}lidayn sebagai manifestasi keimanan paling konkret. Ditemukan lima persamaan utama, yaitu: universalitas nilai, pemaknaan i{\d h}s{\=a}n sebagai keutamaan moral di atas keadilan formal, tauhid sebagai dasar tatanan sosial, serta penggunaan pendekatan rasional-etis dalam memahami perintah Al-Qur?an. Adapun perbedaannya terlihat pada kedalaman analisis bahasa, tingkat kritik sosial, cara memahami konsep syirik, fungsi konteks historis, dan penggunaan sumber rujukan. Tafs{\=i}r Al-Man{\=a}r cenderung kritis-reformatif, sedangkan Tafs{\=i}r Al-Mi{\d s}b{\=a}{\d h} lebih analitis-humanis. Keduanya saling melengkapi dalam menjawab problem formalisme keagamaan dengan menghubungkan kesalehan ritual dan sosial, menguatkan peran keluarga sebagai dasar moral, serta mengkritik kecenderungan individualisme dalam masyarakat modern. Dengan demikian, paradigma relasi tauhid dan birr al-w{\=a}lidayn dalam kedua tafsir ini menghadirkan keseimbangan antara kesalehan vertikal kepada Allah dan kesalehan horizontal dalam kehidupan sosial.} }