<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>RELASI TAUHID DAN BIRR AL-WALIDAYN PERSPEKTIF TAFSIR AL-MANAR DAN TAFSIR AL-MISBAH</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031098</mods:namePart><mods:namePart type="family">Mustiadi Gafar Alifandi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian tentang " Relasi Tauhid dan Birr Al-Wālidayn Perspektif Tafsīr Al-Manār dan Tafsīr Al-Miṣbāḥ" ini berawal dari Indonesia dikenal sebagai negara yang religius, namun mengalami paradoks berupa tingginya religiusitas formal yang tidak selalu diikuti oleh kesalehan sosial. Kondisi ini berkaitan dengan melemahnya pemahaman realsai tauhid sebagai inti keimanan dan birr al-wālidayn sebagai manifestasi etisnya, padahal Al-Qur’an secara konsisten menyandingkan keduanya dalam satu struktur ayat sebagai paradigma teologis-etis yang tidak terpisahkan. Namun, pemahaman relasi tersebut masih jarang dikaji secara komparatif dalam tafsir kontemporer. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi tauhid dan birr al-Wālidayn dalam Tafsīr Al-Manār dan Tafsīr Al-Miṣbāḥ, menemukan persamaan dan perbedaan penafsirannya, serta mengungkap relevansinya bagi masyarakat modern.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi pustaka (library research) serta metode komparatif (muqārranah) yang dipadukan dengan teori (CDA), yang meliputi analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Kajian ini difokuskan pada penafsiran relasi tauhid dan birr al-wālidayn dalam Tafsīr Al-Manār dan Tafsīr Al-Miṣbāḥ terhadap tiga ayat, yaitu QS. al-Baqarah [2]: 83, QS. an-Nisā’ [4]: 36, dan QS. al-An‘ām [6]: 151.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tafsir sepakat menempatkan tauḥīd sebagai fondasi ontologis yang secara niscaya melahirkan birr al-wālidayn sebagai manifestasi keimanan paling konkret. Ditemukan lima persamaan utama, yaitu: universalitas nilai, pemaknaan iḥsān sebagai keutamaan moral di atas keadilan formal, tauhid sebagai dasar tatanan sosial, serta penggunaan pendekatan rasional-etis dalam memahami perintah Al-Qur’an. Adapun perbedaannya terlihat pada kedalaman analisis bahasa, tingkat kritik sosial, cara memahami konsep syirik, fungsi konteks historis, dan penggunaan sumber rujukan. Tafsīr Al-Manār cenderung kritis-reformatif, sedangkan Tafsīr Al-Miṣbāḥ lebih analitis-humanis. Keduanya saling melengkapi dalam menjawab problem formalisme keagamaan dengan menghubungkan kesalehan ritual dan sosial, menguatkan peran keluarga sebagai dasar moral, serta mengkritik kecenderungan individualisme dalam masyarakat modern. Dengan demikian, paradigma relasi tauhid dan birr al-wālidayn dalam kedua tafsir ini menghadirkan keseimbangan antara kesalehan vertikal kepada Allah dan kesalehan horizontal dalam kehidupan sosial.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir</mods:classification><mods:classification authority="lcc">297.211 Allah SWT, Tauhid</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-05-26</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>