<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>DIMENSI RELIGIUSITAS FRATER KONGREGASI SANG PENEBUS MAHAKUDUS DI WISMA SANG PENEBUS SLEMAN</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105020036</mods:namePart><mods:namePart type="family">Naufal Aditya Rizkullah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Dimensi religiusitas Frater Kongregasi Sang Penebus Mahakudus di Wisma&#13;
Sang Penebus Sleman menjadi hal yang menarik untuk dikaji pada perkembangan&#13;
zaman modern yang menghadirkan berbagai tantangan bagi para frater dalam&#13;
menjaga penghayatan iman, kehidupan doa, disiplin komunitas, serta komitmen&#13;
terhadap panggilan hidup membiara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui&#13;
pemahaman Frater Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (C.Ss.R.) di Wisma Sang&#13;
Penebus Sleman terhadap panggilan hidup membiara serta menganalisis religiusitas&#13;
mereka berdasarkan teori religiusitas Charles Y. Glock dan Rodney Stark.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian&#13;
lapangan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap&#13;
sepuluh frater yang sedang menjalani masa formasi di Wisma Sang Penebus&#13;
Sleman. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman,&#13;
sedangkan teori religiusitas Glock dan Stark digunakan sebagai kerangka analisis&#13;
yang meliputi dimensi ideologis, ritualistik, eksperiensial, intelektual, dan&#13;
konsekuensial.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa para frater memahami panggilan&#13;
hidup membiara sebagai panggilan dari Tuhan yang diwujudkan melalui kehidupan&#13;
doa, pelayanan, kehidupan komunitas, serta penghayatan terhadap kaul&#13;
kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Berdasarkan analisis terhadap sepuluh frater,&#13;
pada dimensi ideologis tujuh dari sepuluh frater memperoleh keyakinan melalui&#13;
keterlibatan menggereja dan pelayanan, sedangkan sisanya melalui pengalaman&#13;
keluarga. Pada dimensi ritualistik, seluruh frater menghayatinya melalui doa&#13;
bersama, misa, dan kehidupan komunitas. Pada dimensi eksperiensial, delapan dari&#13;
sepuluh frater memperolehnya melalui pengalaman hidup, pelayanan, dan&#13;
kehidupan doa, sementara sisanya melalui pengalaman komunitas. Pada dimensi&#13;
intelektual, seluruh frater memperolehnya melalui proses pembinaan dan&#13;
pendidikan. Pada dimensi konsekuensial, enam dari sepuluh frater&#13;
menunjukkannya melalui disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial,&#13;
sedangkan sisanya melalui pengendalian diri, kehidupan komunitas, dan pelayanan.&#13;
Temuan ini menunjukkan bahwa religiusitas para frater tidak hanya tercermin&#13;
dalam keyakinan dan praktik keagamaan, tetapi juga dalam sikap hidup dan&#13;
perilaku sosial sehari-hari.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">200 Agama</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-30</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>