@mastersthesis{digilib77730, month = {June}, title = {LAVENDER MARRIAGE SEBAGAI STRATEGI IMPRESSION MANAGEMENT DALAM KONTEKS HETERONORMATIVITAS DAN MORAL KEAGAMAAN: ANALISIS FILM LAVENDER MARRIAGE (2025)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205021010 Zerin Amalina}, year = {2026}, note = {Prof. Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A.}, keywords = {Lavender Marriage, Impression Management, Dramaturgi, Heteronormativitas, Moral-Keagamaan}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77730/}, abstract = {Film Lavender Marriage (2025) mengangkat praktik lavender marriage dalam masyarakat Indonesia yang heteronormatif dan religius, di mana pernikahan berfungsi tidak hanya sebagai relasi personal, tetapi juga sebagai penanda kehormatan, keluarga ideal, dan legitimasi moral-keagamaan. Meskipun kajian heteronormativitas dan representasi gender dalam film telah banyak dilakukan, penelitian yang menghubungkan praktik lavender marriage dengan dramaturgi Goffman serta dimensi moral-keagamaan dalam konteks Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana tokoh utama mengelola citra diri di hadapan publik serta bagaimana tekanan sosial dan moral membentuk praktik tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis film. Data primer diperoleh dari adegan, dialog, gestur, ruang, dan relasi antartokoh dalam film Lavender Marriage (2025), sedangkan data sekunder diperoleh dari buku, jurnal, dan penelitian terdahulu yang relevan. Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, dan interpretasi berdasarkan teori dramaturgi Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Radit mengelola citra dirinya melalui berbagai strategi impression management, yaitu idealization, dramatic realization, expression control, team performance, dramaturgical loyalty, kontrol informasi terhadap destructive information, dan region segregation. Pada wilayah front stage, Radit menampilkan diri sebagai suami harmonis yang sesuai dengan ekspektasi sosial, sedangkan pada wilayah back stage tampak ketegangan antara identitas personal dan identitas publik yang dibangunnya. Keberlangsungan citra tersebut bergantung pada kerja sama dengan Laras, pengelolaan informasi, serta pemisahan yang ketat antara ruang publik dan ruang privat. Penelitian ini menunjukkan bahwa lavender marriage dalam film merupakan strategi sosial untuk mempertahankan penerimaan dan reputasi dalam lingkungan yang heteronormatif. Nilai moral-keagamaan bekerja secara implisit dalam membentuk standar keluarga ideal, kehormatan sosial, dan kepantasan hidup, sehingga identitas personal perlu dinegosiasikan melalui pengelolaan citra di hadapan publik. Dengan menggunakan konsep sacred canopy dari Peter L. Berger, penelitian ini juga menunjukkan bahwa heteronormativitas telah memperoleh legitimasi moral-keagamaan sehingga dipahami sebagai kenyataan objektif yang mengarahkan tokoh untuk meminjam institusi pernikahan sebagai sarana legitimasi diri. Temuan ini memperkaya kajian dramaturgi, heteronormativitas, dan studi film Indonesia dengan menunjukkan bagaimana tekanan sosial dan moral berperan dalam pembentukan identitas sosial.} }