@phdthesis{digilib77763, month = {June}, title = {RESISTENSI HEGEMONI PATRIARKI: DINAMIKA PEREMPUAN KETURUNAN ARAB DALAM MENGUPAYAKAN KESETARAAN GENDER DI SURABAYA}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 22107020056 Conita Sabila Salman Baisa}, year = {2026}, note = {Dr. Napsiah, S.Sos., M.Si.}, keywords = {Resistensi, Patriarki, Perempuan Keturunan Arab, Kesetaraan Gender}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/77763/}, abstract = {Budaya patriarki masih menjadi salah satu penyebab ketidakadilan gender dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Meskipun Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia mengalami penurunan menjadi 0,421, berbagai bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi. Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat adanya 376.529 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan pada tahun 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih menjadi persoalam yang perlu untuk dikaji, termasuk pada masyarakat keturunan Arab yang masih mempertahankan nilai-nilai patriarki, sehingga perempuan menghadapi berbagai bentuk pembatasan baik dalam ranah publik maupun domestik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman perempuan keturunan Arab dalam menghadapi praktik patriarki, mengidentifikasi bentukbentuk resistensi yang dilakukan serta mengungkap faktor pendukung dan penghambat dalam upaya memperjuangkan kesetaraan gender. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada 6 perempuan keturunan Arab, 1 laki-laki keturunan Arab, serta 1 pihak pemerintah lokal dari Kelurahan Ampel. Analisis penelitian menggunakan teori feminis Dorothy Smith. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan keturunan Arab mengalami berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti pembatasan pendidikan dan pekerjaan, kontrol terhadap pemilihan pasangan, pembatasan aktivitas sosial, serta peran gender yang menempatkan laki-laki sebagai dominan sedangkan perempuan hanya pada ranah domestik. Namun, perempuan mulai melakukan resistensi dalam hal pendidikan tinggi, pekerjaan, partisipasi organisasi, perluasan relasi sosial, dan keberanian dalam menentukan pilihan hidup secara mandiri. Hal tersebut dilakukan dengan bentuk negosiasi, kompromi, serta pembuktian diri agar diterima. Resistensi tersebut dapat dilakukan dengan dukungan dari perkembangan teknologi informasi, pendidikan, dukungan keluarga inti, meningkatnya kesadaran kritis terkait peran gender. Hambatan resistensi berasal dari kuatnya budaya patriarki, kontrol keluarga, serta tekanan dan stigma sosial dari komunitas.} }