<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>RESISTENSI HEGEMONI PATRIARKI: DINAMIKA PEREMPUAN KETURUNAN ARAB DALAM MENGUPAYAKAN KESETARAAN GENDER DI SURABAYA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22107020056</mods:namePart><mods:namePart type="family">Conita Sabila Salman Baisa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Budaya patriarki masih menjadi salah satu penyebab ketidakadilan gender&#13;
dalam kehidupan sosial masyarakat di Indonesia. Meskipun Indeks Ketimpangan&#13;
Gender (IKG) Indonesia mengalami penurunan menjadi 0,421, berbagai bentuk&#13;
diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi. Komisi&#13;
Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat adanya 376.529 kasus&#13;
kekerasan berbasis gender terhadap perempuan pada tahun 2025. Kondisi tersebut&#13;
menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih menjadi persoalam yang perlu untuk&#13;
dikaji, termasuk pada masyarakat keturunan Arab yang masih mempertahankan&#13;
nilai-nilai patriarki, sehingga perempuan menghadapi berbagai bentuk pembatasan&#13;
baik dalam ranah publik maupun domestik.&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman perempuan&#13;
keturunan Arab dalam menghadapi praktik patriarki, mengidentifikasi bentukbentuk&#13;
resistensi yang dilakukan serta mengungkap faktor pendukung dan&#13;
penghambat dalam upaya memperjuangkan kesetaraan gender. Penelitian ini&#13;
menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan&#13;
data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi kepada 6&#13;
perempuan keturunan Arab, 1 laki-laki keturunan Arab, serta 1 pihak pemerintah&#13;
lokal dari Kelurahan Ampel. Analisis penelitian menggunakan teori feminis&#13;
Dorothy Smith.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan keturunan Arab&#13;
mengalami berbagai bentuk ketidakadilan gender, seperti pembatasan pendidikan&#13;
dan pekerjaan, kontrol terhadap pemilihan pasangan, pembatasan aktivitas sosial,&#13;
serta peran gender yang menempatkan laki-laki sebagai dominan sedangkan&#13;
perempuan hanya pada ranah domestik. Namun, perempuan mulai melakukan&#13;
resistensi dalam hal pendidikan tinggi, pekerjaan, partisipasi organisasi, perluasan&#13;
relasi sosial, dan keberanian dalam menentukan pilihan hidup secara mandiri. Hal&#13;
tersebut dilakukan dengan bentuk negosiasi, kompromi, serta pembuktian diri agar&#13;
diterima. Resistensi tersebut dapat dilakukan dengan dukungan dari perkembangan&#13;
teknologi informasi, pendidikan, dukungan keluarga inti, meningkatnya kesadaran&#13;
kritis terkait peran gender. Hambatan resistensi berasal dari kuatnya budaya&#13;
patriarki, kontrol keluarga, serta tekanan dan stigma sosial dari komunitas.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">305.3 Gender</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-15</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>