<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KRISIS EKSISTENSIAL DALAM BINGKAI EKSISTENSIALISME RELIGIUS PADA NOVEL RATU YANG BERSUJUD</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.. 23205012020</mods:namePart><mods:namePart type="family">Wafiq Imamah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kajian krisis eksistensial yang kerap menghantui manusia di tengah dominasi ideologi sekuler sering kali mengabaikan dimensi spiritual, hingga menyebabkan kehampaan makna hidup. Dalam diskursus sastra dan filsafat, krisis eksistensial cenderung dikaji melalui lensa eksistensialisme ateistik yang memandang kegelisahan manusia sebagai bentuk absurditas tanpa akhir dan menganggap penyelesaian spiritual sebagai pelarian dari tanggung jawab personal. Novel Ratu Yang Bersujud karya Mahdavi merepresentasikan pergulatan batin tokoh Charllotte, seorang aktivis feminis yang terjebak dalam alienasi dan frustrasi eksistensial di tengah dunia sekuler. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan menjadikan novel Ratu Yang Bersujud karya Mahdavi sebagai referensi utama (sumber data primer). Proses pengumpulan dan pengolahan data dilakukan melalui tiga langkah sistematis. Tahap awal dimulai dengan menelaah seluruh isi data yang tersedia. Langkah kedua adalah reduksi data, yang bertujuan untuk memilah, memfokuskan, dan mengorganisir data agar lebih tajam dan relevan sebelum ditarik sebuah kesimpulan. Tahap akhir adalah penyajian data, di mana peneliti memaparkan temuan yang menggambarkan krisis eksistensial serta manifestasi eksistensialisme religius dalam novel. Seluruh data tersebut kemudian dibedah secara mendalam menggunakan landasan teoretis Eksistensialisme Religius Muhammad Iqbal. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa krisis eksistensial tokoh Charllotte dimanifestasikan melalui perasaan keterasingan terhadap lingkungan sosialnya serta kegagalan ideologi feminisme sekuler dalam memberikan ketenangan batin. Transformasi tokoh Charllotte secara runtut merepresentasikan tiga tahapan pengembangan Khudi (kedirian) Muhammad Iqbal, yaitu tahap ketaatan (obedience, itha’at), tahap kontrol diri (self-control, dhabti nafs), dan tahap wakil Tuhan (vicegerence of God, niyabati Ilahi). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyelesaian krisis eksistensial secara spiritualitas bukanlah pelarian, melainkan pilar utama yang memungkinkan individu melampaui penderitaan eksistensial dan menjadi pribadi yang bebas kreatif. Melalui perspektif eksistensialisme religius Muhammad Iqbal, penelitian ini justru memosisikan krisis eksistensial sebagai titik balik teologis menuju penemuan jati diri yang autentik.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.261 Islam dan Filsafat, Filsafat Islam</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-26</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>