<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>BUSANA SYAR’I DALAM PANDANGAN NETIZEN: Analisis Resepsi terhadap Unggahan Abaya Naura Ayu di Instagram</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22105040075</mods:namePart><mods:namePart type="family">Erza Alinda Safitri</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Unggahan busana abaya oleh Naura Ayu di media sosial memunculkan berbagai respons&#13;
dari netizen, mulai dari dukungan hingga kritik. Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa&#13;
simbol keagamaan tidak selalu dimaknai secara seragam, terutama ketika ditampilkan dalam ruang&#13;
digital yang memungkinkan setiap pengguna memberikan penafsiran sesuai dengan&#13;
pemahamannya masing-masing. Kondisi ini memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya&#13;
menjadi tempat berbagi pengalaman religius, tetapi juga menjadi ruang terjadinya perdebatan dan&#13;
negosiasi makna terhadap simbol keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respons&#13;
netizen terhadap unggahan busana abaya di Instagram serta memahami proses negosiasi dan&#13;
pembentukan makna busana syar’i di media sosial.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis&#13;
resepsi. Data penelitian diperoleh dari komentar netizen pada unggahan Instagram Naura Ayu&#13;
terkait busana abaya dan dianalisis menggunakan teori resepsi Stuart Hall yang mengelompokkan&#13;
posisi khalayak ke dalam kategori dominan, negosiasi, dan oposisi. Selain itu, penelitian ini juga&#13;
menggunakan teori mediatisasi agama Stig Hjarvard untuk memahami bagaimana media sosial&#13;
berperan dalam membentuk, menyebarkan, dan memengaruhi pemaknaan simbol keagamaan di&#13;
ruang digital.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons netizen terbagi ke dalam tiga posisi&#13;
pemaknaan, yaitu dominan, negosiasi, dan oposisi. Perbedaan pemaknaan tersebut dipengaruhi&#13;
oleh latar belakang pengetahuan, pengalaman, serta pemahaman keagamaan masing-masing&#13;
individu. Sebagian besar netizen lebih banyak menyoroti aspek visual busana, seperti model,&#13;
bahan, dan tampilan pakaian dibandingkan nilai religius dari ibadah yang ditampilkan. Temuan ini&#13;
menunjukkan bahwa simbol keagamaan di media sosial cenderung dipahami melalui logika media&#13;
yang menekankan aspek visual dan estetika. Makna busana syar’i di media sosial akhirnya tidak&#13;
lagi bersifat tunggal, melainkan terbentuk melalui proses negosiasi antara nilai religius, logika&#13;
media, dan cara pandang khalayak di ruang digital.&#13;
Kata Kunci: busana syar’i, Instagram, respons netizen</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">306.6 Sosiologi - Agama</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-03</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>