<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Mengedepankan Peran Agency Dalam Analisis Kebijakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dian Nur Anna</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang &#13;
dalam analisis ini distatuskan sebagai aktor atau agency dalam &#13;
policy-making. Keaktorannya dalam policy-making yakni merespons &#13;
pandemi Covid-19 hanya bisa dipahami kalau konteksnya dihadirkan. &#13;
Kemampuannya melakukan respons cepat terhadap situasi gawat &#13;
darurat itu dijelaskan jati dirinya sebagai artikulasi dari kelembagaan &#13;
yang sifatnya organik. Ada hal paradoksal di sini. Ketika analis hendak &#13;
mengedepankan keaktoran, justru keniscayaannya adalah semakin &#13;
dalam menyelami perjuangannya. Kedua organisasi yang kita telaah—Muhammadiyah dan Nahdlatul &#13;
Ulama—jelas memiliki kapasitas yang luar biasa. Kapasitas itu bisa &#13;
kita pahami ketika kita menyimak konteks kehadirannya di publik; &#13;
yakni sebagai institusi publik, dan institusi itu bersifat organik. &#13;
Kapasitasnya itu menjadi aktual manakala organisasi menjalani proses &#13;
kebijakan, sebagaimana birokrasi pemerintah: mengidentifikasi dan &#13;
merumuskan permasalahan yang mengedepan, mengimplementasikan &#13;
dan mengevaluasi atau menagih kinerja dirinya sendiri</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Organisasi Masyarakat</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Rajawali Pers</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Book Section</mods:genre></mods:mods>