<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>ANALISIS MISKONSEPSI SISWA MENGGUNAKAN CERTAINTY OF RENSPONSE INDEX (CRI) DALAM MENYELESAIKAN SOAL PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PADA MATERI PELUANG</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22104040043</mods:namePart><mods:namePart type="family">Haidar Rozan Nazhiffa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kemampuan pemecahan masalah matematis merupakan salah satu kompetensi&#13;
penting yang harus dimiliki siswa untuk memahami konsep matematika secara&#13;
mendalam serta menerapkannya dalam berbagai situasi. Namun, masih banyak siswa&#13;
yang mengalami miskonsepsi ketika menyelesaikan soal pemecahan masalah,&#13;
khususnya pada materi peluang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk&#13;
mendeskripsikan miskonsepsi siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah&#13;
matematis pada materi peluang menggunakan Certainty of Response Index (CRI) serta&#13;
menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya miskonsepsi.&#13;
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penelitian&#13;
dilaksanakan di SMA Negeri 4 Yogyakarta dengan subjek penelitian siswa kelas X E3&#13;
dan X E4 tahun ajaran 2025/2026. Pengumpulan data dilakukan melalui tes diagnostik&#13;
CRI, angket faktor penyebab miskonsepsi, wawancara, dan observasi. Analisis data&#13;
dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan,&#13;
sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskonsepsi terjadi pada seluruh tahapan&#13;
pemecahan masalah berdasarkan langkah Polya. Pada tahap memahami masalah,&#13;
persentase siswa yang mengalami miskonsepsi berkisar antara 1,54%–4,62%. Pada&#13;
tahap merencanakan penyelesaian, persentase miskonsepsi berkisar antara 12,31%–&#13;
36,92%. Pada tahap melaksanakan rencana, persentase miskonsepsi berkisar antara&#13;
9,23%–35,38%. Adapun pada tahap memeriksa kembali, persentase miskonsepsi&#13;
merupakan yang tertinggi, yaitu berkisar antara 4,62%–43,08%. Jenis miskonsepsi&#13;
yang ditemukan antara lain miskonsepsi klasifikasional dan teoritikal pada seluruh&#13;
tahap, dan miskonsepsi korelasional pada tahap memeriksa kembali. Selain itu,&#13;
ditemukan tujuh faktor penyebab miskonsepsi, dengan guru dan relasi dengan siswa&#13;
sebagai faktor yang paling dominan, terutama terkait pembelajaran yang berorientasi&#13;
pada penggunaan rumus, penyampaian materi yang terlalu cepat, dan minimnya umpan&#13;
balik terhadap proses berpikir siswa.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">371.36 Metode Pengajaran, Metode Pembelajaran</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-11</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>