<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Identitas Salafi di Jambi</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ulya Fuhaidah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Kelompok Salafi di Jambi berasal dari jaringan Salafi &#13;
Yogyakarta. Terdapat lima orang tokoh pendiri Salafi di Jambi &#13;
yang tidak berafiliasi dengan bantuan dan dana dari luar negeri. &#13;
Mereka adalah masyarakat Muslim biasa yang ingin mengkaji &#13;
dan menjalankan manhaj Salafi dalam kehidupan sehari-hari. &#13;
Pada awalnya mereka hanya belasan orang, namun seiring &#13;
dengan dibubarkannya Laskar Jihad, para pengamal manhaj &#13;
Salafi di Jambi semakin bertambah. Yayasan Salafi pertamakali &#13;
berdiri pada tahun 2002 dan bergerak di bidang pendidikan dan &#13;
dakwah. Berdasarkan tipologi Salafi oleh para ahli, maka Salafi di &#13;
Jambi dapat dikategorikan sebagai kelompok puris.&#13;
 Pemahaman kelompok Salafi di Jambi terhadap &#13;
pengetahuan Salafi dan Wahabi menunjukkan adanya perbedaan &#13;
dalam interpretasi. Secara umum, kelompok Salafi menganggap &#13;
bahwa ajaran Wahabi merupakan bagian dari gerakan pembaruan &#13;
Islam yang sejalan dengan prinsip-prinsip utama Salafiyah, yaitu &#13;
kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para &#13;
salaf (tiga generasi pertama Islam). Namun, terdapat variasi &#13;
dalam penerimaan dan pemaknaan terhadap istilah “Wahabi” &#13;
yang oleh sebagian kelompok Salafi dianggap sebagai label &#13;
peyoratif yang tidak mencerminkan esensi dakwah tauhid yang &#13;
diajarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab Kelompok Salafi di Jambi cenderung menekankan aspek &#13;
pemurnian akidah Islam dari unsur-unsur bid’ah, khurafat, dan &#13;
taklid buta. Mereka juga memiliki ciri khas dalam memahami &#13;
dan menerapkan konsep manhaj Salafi dalam kehidupan &#13;
sehari-hari yang menolak membidahkan kelompok non-Salafi &#13;
di Jambi. Sementara itu, istilah “Wahabi” sering kali dikaitkan &#13;
dengan konteks politik dan sejarah tertentu, terutama kelompok &#13;
Khawarij yang tidak sepenuhnya mencerminkan posisi teologis &#13;
semua kelompok Salafi. Dengan demikian, dapat disimpulkan &#13;
bahwa meskipun terdapat titik temu antara pemikiran Salafi &#13;
dan Wahabi dalam hal akidah dan manhaj, namun pemahaman &#13;
terhadap keduanya tidak bersifat seragam, baik di kalangan Salafi &#13;
sendiri maupun dalam persepsi masyarakat umum.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.65 Organisasi Islam</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Idea Press</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Book Section</mods:genre></mods:mods>