<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Wahabi Antara Gerakan Keagamaan, Ideologi, dan Politik</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Nurul Hak</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Wahabi merupakan suatu gerakan Islam dinamis yang &#13;
mengalami perkembangan melalui basis ortodoksi keagamaan Islam. &#13;
Ia muncul dari wilayah Najd, Arab Saudi, melalui suatu gerakan &#13;
puritanisme dan pembaharuan Islam berbasis pada semangat &#13;
untuk kembali pada al-Qur’an dan Hadis, pembersihan tauhid dari &#13;
kemusyrikan, bid’ah, khurafat dan takhayul, dan terbukanya pintu &#13;
ijtihad. Latar belakang sosial-keagamaan masyarakat muslim di Najd &#13;
dan hubungan personal antara Muhammad bin Abdul Wahhab &#13;
dengan Muhammad bin Sa’ud menjadi babak baru terjadinya &#13;
transformasi gerakan Wahabi dari keagamaan ke ideologi dan &#13;
dari ideologi ke gerakan politik. Gerakan keagamaan merupakan &#13;
bagian dari penyebarluasan dakwah Wahabi dalam memperbaiki &#13;
kondisi sosial masyarakat muslim Najd melalui pemurnian tauhid. &#13;
Sedangkan gerakan ideologi merupakan upaya indoktrinasi ajaran&#13;
ajaran Wahabi dan implementasinya di wilayah Dar’iyah dan &#13;
sekitarnya di Najd melalui kekerasan, pemaksaan dan pengrusakan &#13;
untuk melakukan purifikasi ajaran Islam. Di sisi lain, gerakan &#13;
politik bertolak dari aliansi politiknya dengan Muhammad bin &#13;
Sa’ud secara mutualisme simbiosis, sehingga gerakan keagamaan &#13;
dan politik berjalan beriringan dan saling mendukung. Hanya saja &#13;
gerakan politik ini memiliki ciri yang berbeda, ditandai dengan &#13;
perluasan wilayah kekuasaan Muhammad bin Saud dan pengaruh &#13;
ajaran Wahabi, menjadikan preferensi agama sebagai basis politik &#13;
dan upaya pendirian Kerajaan Ibnu Saud. Gerakan politik lebih &#13;
dikendalikan oleh Muhammad bin Sa’ud sebagai pemegang kuasa, &#13;
yang sebelum beraliansi dengan Muhammad bin Abdul Wahab telah &#13;
muncul sebagai penguasa lokal kesukuan di wilayah  Dar’iyah. Pasca &#13;
aliansi, gerakan politiknya menemukan momentum yang tepat, &#13;
karena gerakan-gerakan politiknya dibangun atas dasar legitimasi &#13;
keagamaan yang didukung oleh Muhammad bin Abdul Wahab, &#13;
sehingga menjadi kekuatan yang real dan menjelma menjadi sebuah &#13;
kerajaan  hingga saat ini. Dalam kaitan inilah gerakan politik Wahabi &#13;
menjadi bemper yang dimanfaatkan bagi eksistensi kekuasaan &#13;
Ibnu Saud sebagai politik identitas, dengan menjadikan doktrin &#13;
keagamaan Wahabi sebagai menjadi basis gerakannya. &#13;
Basis keagamaan pula yang menjadikan gerakan Wahabi &#13;
mengalami pergeseran ke dalam gerakan-gerakan transnasional &#13;
dengan nama dan pelabelan yang berbeda-beda. Meskipun demikian, &#13;
worldview-nya sama membangun sistem politik berdasarkan syariat &#13;
Islam dan khilafah islamiyah, seperti yang pernah terjadi dalam &#13;
sejarah Islam klasik.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.65 Organisasi Islam</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Idea Press</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Book Section</mods:genre></mods:mods>