    {
      "department": "FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM",
      "subjects": [
        297.21
      ],
      "eprintid": 78300,
      "thesis_type": "skripsi",
      "date": "2026-06-15",
      "userid": 12241,
      "documents": [
          {
            "language": "id",
            "placement": 1,
            "eprintid": 78300,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-09-14 07:34:46",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1865845,
                  "objectid": 1074727,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1865845",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "5ff9ccd961be4d543649307f8e9f8db5",
                  "filesize": 3355005,
                  "filename": "22105050068_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1074727",
            "main": "22105050068_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1074727,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 1,
            "formatdesc": "PEMIKIRAN TAQIYUDIN AN-NABHANI TERHADAP HADIS KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH"
          },
          {
            "language": "id",
            "placement": 2,
            "eprintid": 78300,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-09-14 07:34:49",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1865848,
                  "objectid": 1074728,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1865848",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "c306e94e1149d85ffae83fd95236e733",
                  "filesize": 3304871,
                  "filename": "22105050068_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1074728",
            "main": "22105050068_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1074728,
            "format": "text",
            "security": "validuser",
            "pos": 2,
            "formatdesc": "PEMIKIRAN TAQIYUDIN AN-NABHANI TERHADAP HADIS KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH"
          }
      ],
      "rev_number": 10,
      "creators": [
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "NIM.: 22105050068",
            "honourific": null,
            "family": "Rohmat Febrianto"
          }
        }
      ],
      "dir": "disk0\/00\/07\/83\/00",
      "keywords": "Taqiyuddin an-Nabhani, khilafah, hadis kepemimpinan, Double Movement Theory, Fazlur Rahman",
      "lastmod": "2026-09-14 07:38:51",
      "ispublished": "pub",
      "metadata_visibility": "show",
      "date_type": "published",
      "eprint_status": "archive",
      "status_changed": "2026-09-14 07:38:51",
      "datestamp": "2026-09-14 07:38:51",
      "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/eprint\/78300",
      "thesis_name": "other",
      "note": "Dr. H Agung Danarta M.Ag",
      "full_text_status": "restricted",
      "contact_email": "sophanshofwan@gmail.com",
      "divisions": [
        "jur_ih"
      ],
      "abstract": "Setelah pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada tahun 2017 melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017, wacana tentang kewajiban menegakkan khilafah kembali muncul dalam perdebatan keislaman modern. Sebagai peletak dasar ideologi Hizbut Tahrir, Taqiyuddin an-Nabhani adalah salah satu orang yang paling tegas mendasarkan kewajiban tersebut pada beberapa hadis Nabi, sebagaimana dia menjelaskan dalam kitabnya Niẓām al-Ḥukm fī al-Islām. Namun, dari sudut pandang hermeneutika kontekstual, pendekatan penafsiran hadis yang digunakan an-Nabhani belum banyak diteliti. Sebaliknya, mengadopsi gagasan secara literal justru menimbulkan konflik yang berkepanjangan dengan keadaan negara-bangsa kontemporer. Teori Double Movement, yang diciptakan Fazlur Rahman dalam Islam dan Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, digunakan sebagai kerangka analisis utama dalam penelitian ini.\r\nHasil penelitian menunjukkan dua temuan utama yang sejalan dengan rumusan masalah penelitian. Pertama, terkait pemahaman an-Nabhani atas hadis-hadis dasar konsep khilafah dalam Niẓām al-Ḥukm fī al-Islām, ditemukan bahwa metode istidlalnya bersifat tekstual-normatif, memadukan dalil naqli dengan kaidah ushul fikih khabar-madh-thalab-jazim dan ma la yatimmu al-wajib illa bihi fahuwa wajib, namun minim mempertimbangkan konteks sosio-historis kemunculan tiap hadis, sehingga menggeneralisasi ketentuan partikular menjadi struktur institusional baku yang melampaui apa yang dapat dijustifikasi oleh dalil-dalilnya sendiri.\r\nKedua, terkait relevansi pemahaman tersebut dalam konteks sosial-politik dunia Islam modern, ditemukan bahwa nilai moral universal yang sesungguhnya terkandung dalam hadis-hadis tersebut persatuan kepemimpinan, stabilitas politik, dan legitimasi berbasis kesepakatan tetap relevan, tetapi bentuk institusional khilafah yang dituntut an-Nabhani mengalami keterbatasan relevansi ketika dihadapkan dengan realitas negara-bangsa modern, sehingga diperlukan pemaknaan kontekstual melalui konsep ulil amri dan mekanisme konstitusional kontemporer sebagai padanan fungsionalnya. Berdasarkan kedua temuan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman hadis khilafah an-Nabhani relevan pada tataran nilai, namun terbatas pada tataran bentuk.\r\nKata Kunci: Taqiyuddin an-Nabhani, khilafah, hadis kepemimpinan, Double Movement Theory, Fazlur Rahman",
      "type": "thesis",
      "title": "PEMIKIRAN TAQIYUDIN AN-NABHANI TERHADAP\r\nHADIS KEWAJIBAN MENEGAKKAN KHILAFAH",
      "institution": "UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA",
      "pages": 109
    }