@mastersthesis{digilib78604, month = {August}, title = {PERKEMBANGAN IMAN ANAK WAQF-E-NOU DALAM KONTEKS PENYANDANGAN IDENTITAS SEJAK MASA PRENATAL}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24200011025 Naomi Ainun Hasanah}, year = {2026}, note = {Dr. Sunarwoto, S.Ag., M.A.}, keywords = {Waqf-E-Nou, Prenatal Identity, Perkembangan Iman, Psikologi Agama, Psikologi Sosial}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78604/}, abstract = {Penelitian ini mengkaji dinamika perkembangan iman individu Waqf-E-Nou dalam Jamaah Muslim Ahmadiyah. Perhatian diarahkan pada identitas yang disandangkan oleh orang tua sejak masa prenatal, sebelum anak mampu mengenali dan memaknainya. Penelitian ini menelaah konstruksi dan pemeliharaan identitas melalui keluarga dan Jamaah serta cara individu memaknai komitmennya di tengah posisi Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan minoritas di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan dilakukan di lingkungan Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia (JMAI) Cabang Manislor, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis menggunakan konsep prenatal identity, perspektif perkembangan iman Fowler, dan perspektif psikologi sosial untuk membaca hubungan antara pengalaman individu, keluarga, Jamaah, dan posisi sosial kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Waqf-E-Nou bermula dari dedikasi orang tua sejak masa prenatal, kemudian diperkenalkan dan dipelihara melalui pengasuhan serta kehidupan keagamaan keluarga. Jamaah memperluas proses tersebut melalui pembinaan, relasi sosial, aktivitas keagamaan, dan pengalaman berkhidmat. Peran keluarga dan Jamaah menunjukkan bahwa pemeliharaan identitas Waqf-E-Nou menjadi bagian dari keberlanjutan iman dan orientasi pengabdian antargenerasi. Namun, perkembangan iman partisipan tidak berlangsung secara seragam. Mereka menunjukkan variasi dalam mengenali identitas, menjalani komitmen, menghadapi pergulatan dengan aspirasi personal, serta memaknai Waqf-E-Nou. Di Manislor, proses tersebut berlangsung dalam posisi sosial yang berlapis: komunitas Ahmadiyah memiliki kehadiran sosial dan kelembagaan yang kuat secara lokal, tetapi tetap menjadi bagian dari kelompok keagamaan minoritas dalam struktur sosial-politik Indonesia. Temuan ini menegaskan bahwa penyandangan identitas prenatal merupakan titik awal, bukan penentu akhir, perkembangan iman. Identitas yang dikonstruksi dan dipelihara sejak dini tetap dimaknai dan dinegosiasikan secara aktif oleh individu seiring perkembangan dan pengalaman sosialnya. Dengan demikian, perkembangan iman berlangsung dalam pertautan antara proses psikologis individu, relasi sosial, dan posisi sosial kelompok.} }