<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>INSTITUSIONALISASI KESALEHAN DALAM RUANG EKONOMI: STUDI KASUS PENGAJIAN TASAWUF DI KAFE MAIN-MAIN</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24200011048</mods:namePart><mods:namePart type="family">Syamilul Asror</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini menganalisis bagaimana praktik kesalehan&#13;
diproduksi dan diinstitusionalisasikan dalam ruang ekonomi&#13;
melalui studi etnografi di Kafe Main-Main, Yogyakarta.&#13;
Berbeda dengan pandangan yang memosisikan ruang&#13;
komersial dan ruang religius sebagai dua ranah yang terpisah,&#13;
penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa keduanya dapat&#13;
saling berkelindan melalui praktik-praktik sosial yang&#13;
berlangsung secara berulang. Penelitian menggunakan&#13;
pendekatan etnografi dengan teknik observasi partisipatif,&#13;
wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk memahami&#13;
pengalaman para aktor dalam membentuk kehidupan&#13;
keagamaan di ruang kafe.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kafe Main-Main tidak&#13;
sekadar menjadi lokasi penyelenggaraan pengajian tasawuf,&#13;
melainkan diproduksi sebagai ruang religius melalui&#13;
konfigurasi berbagai elemen material, sensorik, visual,&#13;
auditori, dan ritual. Artefak materialseperti sandal para tokoh&#13;
agama, lukisan ulama, dan bukhoor; lanskap bunyi berupa&#13;
qasidah dan musik gambus; serta praktik ritual seperti&#13;
pembacaan Simṭud Durar dalam Mahallul Qiyam tidak hadir&#13;
sebagai unsur yang berdiri sendiri, tetapi saling berinteraksi&#13;
membentuk pengalaman religius para pengunjung.&#13;
Keseluruhan elemen tersebut diproyeksikan oleh pemilik kafe&#13;
sehingga menghasilkan konfigurasi ruang yang&#13;
memungkinkan aktivitas ekonomi dan praktik keagamaan&#13;
berlangsung secara berdampingan tanpa saling menegasikan.&#13;
Pada saat yang sama, penyelenggaraan pengajian juga&#13;
memperlihatkan bahwa orientasi keagamaan di ruang tersebut&#13;
tidak dibangun melalui strategi rekrutmen jamaah, melainkan&#13;
melalui penyediaan ruang yang terbuka dalam bentuk&#13;
keterlibatan.&#13;
Penelitian ini berargumen bahwa konfigurasi artefak, praktik&#13;
ritual, dan tata kelola ruang tersebut melahirkan proses&#13;
institusionalisasi kesalehan di dalam ruang ekonomi.&#13;
Kesalehan tidak lagi semata dipraktikkan sebagai ekspresi&#13;
individual, tetapi memperoleh bentuk yang relatif stabil&#13;
melalui pengaturan ruang, objek-objek material, pengalaman&#13;
indrawi, serta rutinitas ritual yang terus direproduksi. Dengan&#13;
demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa ruang ekonomi&#13;
dapat berfungsi sebagai medium pembentukan kehidupan&#13;
keagamaan tanpa kehilangan fungsi komersialnya, sekaligus&#13;
memperkaya Kajian mengenai relasi agama, materialitas, dan&#13;
produksi ruang dalam masyarakat Muslim kontemporer.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.5 Akhlak dan Tasawuf</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-14</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;PASCASARJANA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>