relation: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78744/ title: TAHWIL AL MUBTADA' AL TA'AWUNI FI USLUB AL SU'AL WA AL JAWAB FI BA'DI AYAT AL QUR'AN AL KARIM : dirasah tahliliyah pragmatikiyah creator: ULUN NUHA, NIM.: 01110496 subject: Bahasa dan Sastra Arab - Analisis Teks description: Berbahasa adalah beraktifitas sosial. Beraktifitas sosial dapat berjalan dengan dengan baik manakala pihak-pihak yang terlibat di dalamnya bertindak kooperatif, serta bertutur sesuai dengan kebutuhan. Hubungan antara penutur dan petutur baru terjalin dengan baik manakala keduanya bisa menjaga hak dan kewajibannya. Dalam kajian teori tindak tutur dikemukakan ada beberapa kaidah yang harus dijaga oleh penutur serta petutur di saat berkomunikasi. Manakala kaidah-kaidah ini dilanggar oleh salah satu diantara penutur dan petutur maka proses komunikasi akan terhambat dan berjalan tidak lancar. Kaidah ini dalarn kajian pragmatik disebut dengan Prinsip Kerja Sama (PK). Prinsip ini terdiri dari empat maksim. antara lain: maksim kuantitas, maksim kualitas,. maksim hubungan dan maksim cara. Jika maksim-maksim ini digunakan dengan baik oleh penutur, maka maksud atau pesan yang diinginkan akan mudah diterima oleh lawan tuturnya. Narnun kadang penutur dengan sengaja tidak melaksakan atau menggunakan PK ini untuk suatu tujuan tertentu. Sebagai contoh dalam salah satu gaya bahasa Al-Qur'an, yaitu as Su 'al wa al Jawab, ada beberapa ayat yang tidak menggunakan PK dalam mengungkapkan pesan yang ingin disampaikan. Adakalanya ayat tersebut meninggalkan beberapa unsur dalam PK yang biasa disebut dengan maksim, seperti rnengabaikan rnaksirn kuanlitas, dengan pemyataan yang rnelebihi atau kurang dari apa yang dibutuhkan, atau maksirn kualitas dengan pemyataan yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, atau maksim hubungan dengan tidak memberikan informasi sebagaimana yang dibutuhkan oleh petutur, atau dengan meninggalkan maksim cara dengan menyatakan sesuatu dengan cara yang abstrak.. Secara teori, pengabaian prinsip percakapan ini satu sisi tidak dapat dibenarkan. Karena dikhawatirkan terjadi salah paham antara penutur dan petutur. Namun di sisi lain, sebuah percakapan yang dengan kaku menggunakan PK ini akan terasa sangat kering, sehingga dalam berbagai kasus pengabaian PK ini justru dibenarkan dan menggantinya dengan penggunaan prinsip-prinsip percakapan yang lain, seperti Prinsip Sopan Santun (PS) dan Prinsip Ironi (PI). Dalam skripsi ini, penyusun mencoba untuk menganalisa bentuk-bentuk peralihan atau penggantian penggunaan PK ke PS atau Pl dengan analisa pragmatik. Yaitu dengan rnelihat siapa yang berbicara (penutur), yang diajak berbicara (petutur), dalam kondisi atau keadaan apa dia bicara, dan untuk tujuan apa peralihan atau penggantian tersebut. date: 2006-07-18 type: Thesis type: NonPeerReviewed format: text language: ar identifier: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78744/1/01110496_BAB%20I_BAB%20PENUTUP%20dan%20DAFTAR%20PUSTAKA.pdf format: text language: ar identifier: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78744/2/01110496_BAB%20II%20sampai%20BAB%20III.pdf identifier: ULUN NUHA, NIM.: 01110496 (2006) TAHWIL AL MUBTADA' AL TA'AWUNI FI USLUB AL SU'AL WA AL JAWAB FI BA'DI AYAT AL QUR'AN AL KARIM : dirasah tahliliyah pragmatikiyah. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.