@phdthesis{digilib78979, month = {December}, title = {KEPEMIMPINAN PBNU 1979-1984 (Studi Historis)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 96121843 Eko Sukarno}, year = {2002}, note = {Drs. H. Maman Abdul Malik, MS. - Digitalisasi}, keywords = {kepemimpinan PBNU; Idham Khalid; konflik internal NU; sejarah politik NU}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/78979/}, abstract = {Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya kepemimpinan KH. Idham Khalid sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU kurun waktu 1979?1984, mengidentifikasi faktor-faktor pemicu konflik internal di tubuh PBNU (termasuk dinamika faksi Cipete dan faksi Situbondo), serta menguraikan proses dan bentuk penyelesaian konflik kepemimpinan dalam sejarah sosial-politik Nahdlatul Ulama. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis studi pustaka (library research) yang menggunakan metode sejarah (historis). Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran sumber-sumber primer dan sekunder berupa dokumen organisasi, buku sejarah NU, dan karya akademis terkait. Data yang terkumpul diseleksi melalui kritik sumber, diinterpretasikan, dan dikonstruksikan secara historis-sosiologis (historiografi) guna menggambarkan dinamika politik internal PBNU pada periode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kepemimpinan KH. Idham Khalid pada kurun waktu 1979?1984 diwarnai oleh gaya politik yang sangat fleksibel dan cenderung kompromistis terhadap pemerintah Orde Baru, yang dinilai sebagian elite Syuriyah dan kiai Jawa melampaui kewenangan organisasi serta mengabaikan koordinasi internal; (2) Konflik internal PBNU memuncak pasca-Muktamar Semarang ke-26, yang memicu polarisasi kekuatan antara faksi Cipete (pendukung Idham Khalid) dan faksi Situbondo (dipelopori KH. As'ad Syamsul Arifin dan kiai Syuriyah) terkait regenerasi kepemimpinan dan marjinalisasi peran NU di PPP; dan (3) Penyelesaian konflik internal PBNU dicapai melalui desakan regenerasi kepemimpinan{--}dengan alasan formal kesehatan KH. Idham Khalid{--}yang kemudian membuka jalan bagi konsolidasi NU kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo ke-27 tahun 1984.} }