<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Repetisi dan Kreativitas: Adaptasi Musik dalam Pementasan Twelfth Night</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">-</mods:namePart><mods:namePart type="family">Febriyanti Lestari</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Makalah ini menyimpulkan bahwa pementasan &#13;
Twelfth Night oleh teater kontemporer Flea Theater berusaha &#13;
menampilkan musik seperti tertuang di teks aslinya. Namun, &#13;
frekuensi dan melodi yang dimainkan dalam pertunjukan mereka &#13;
sedikit berbeda. Seperti yang disimpulkan Carpenter (1976, p. &#13;
255) dalam artikelnya, “Upaya kita yang terus-menerus untuk &#13;
mengungkap inti misteri musik hanyalah cerminan keinginan &#13;
kita untuk melihat Shakespeare sebagaimana dilihat oleh sesama &#13;
seniman pada zamannya dan memahami dia dengan pemahaman &#13;
mereka.” Pekerja seni kontemporer mungkin tidak akan pernah &#13;
bisa benar-benar memahami misteri musik Shakespeare, namun &#13;
eksplorasi terus-menerus, dengan musik sebagai pedoman, akan &#13;
membawa mereka lebih dekat pada esensi Shakespeare. &#13;
Dalam pementasannya, Flea Theater berusaha tetap &#13;
mempertahankan kesederhanaan dalam penggunaan musik &#13;
walaupun dibantu teknologi digital. Durasi musik pada latar &#13;
relatif singkat dan berpusat pada kehadiran Clown. Akan tetapi, &#13;
bentuk adaptasi yang dilakukan Flea Theater tidak sekedar &#13;
repetisi duplikatif melainkan juga menawarkan variasi kreatif &#13;
yang disesuaikan dengan selera audiens masa kini. Salah satu &#13;
yang menonjol adalah variasi pada pemilihan instrumen musik &#13;
dari lute menjadi gitar. Kemudian penataan panggung (staging) &#13;
yang ditawarkan Flea Theater bersifat minimalis khas Broadway. &#13;
Reinterpretasi ini sejalan dengan teori adaptasi Hutcheon bahwa &#13;
konteks sangat penting saat proses reproduksi. Selain itu, dari &#13;
perbandingan karya asli Twelfth Night oleh Shakespeare dan &#13;
adaptasi oleh teater kontemporer menunjukkan bahwa peran &#13;
musik cukup signifikan di era apapun karena musik tidak hanya &#13;
memperkaya lingkungan dramatis namun juga mempertahankan &#13;
perhatian penonton pada cerita drama tersebut</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Musik</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2025</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Idea Press</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Book Section</mods:genre></mods:mods>