<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>MOTIF DEKONVERSI AGAMA ANGGOTA FORUM R/EXMUSLIM DI PLATFORM REDDIT DALAM PERSPEKTIF RELIGIOUS TRAUMA SYNDROME</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 23205022002</mods:namePart><mods:namePart type="family">Fuad Hizbillah Fathoni</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Agama merupakan salah satu unsur terpenting dalam kehidupan manusia.&#13;
Namun, dalam pengalaman sebagian orang, agama tidak selalu berjalan sebagaimana&#13;
fungsi idealnya, sebab agama yang semestinya menjadi sumber ketenangan justru&#13;
berbalik menjadi sumber tekanan. Tekanan tersebut muncul dari berbagai aspek, dan&#13;
akumulasinya dapat menimbulkan trauma keagamaan hingga berujung pada keputusan&#13;
meninggalkan agama. Namun, dekonvesi dari agama Islam memiliki konsekuensi&#13;
berat, yang membuat banyak mantan Muslim mengekspresikan pengalaman&#13;
dekonversinya dalam ruang digital secara anonim, karena terdapat jaminan privasi&#13;
yang terjaga. Penelitian ini berupaya mengkaji motif dekonversi agama anggota forum&#13;
r/exmuslim yang berlatarbelakang trauma keagamaan, melalui pertanyaan, bagaimana&#13;
arsitektur trauma keagamaan yang dialami dan bagaimana nalar value rational action&#13;
bekerja dibalik dekonversi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif&#13;
dengan pendekatan analisis wacana kritis, dengan indikator Religious Trauma&#13;
Syndrome sebagai alat pemetaan fakta trauma, sementara value-rational action Max&#13;
Weber digunakan sebagai kerangka analisis.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma keagamaan yang dinarasikan oleh&#13;
anggota forum r/exmuslim berpangkal pada praktik keagamaan yang mengekang dan&#13;
diperkuat oleh ajaran yang menimbulkan rasa takut. Tekanan tersebut juga disertai&#13;
dengan konsekuensi berat yang bekerja dalam dua arah, yaitu konsekuensi atas&#13;
ketidakpatuhan terhadap aturan keagamaan, serta konsekuensi sosial maupun personal&#13;
yang harus dihadapi setelah melakukan dekonversi. Akumulasi tekanan tersebut&#13;
membentuk berbagai beban moral dan pengalaman negatif, baik secara psikis, sosial,&#13;
hingga fisik. Keseluruhan pengalaman tersebut terikat oleh jejak teks keagamaan,&#13;
sehingga pengalaman yang terbentuk disebabkan karena adanya relasi kuasa&#13;
keagamaan yang bekerja melalui wacana keagamaan. Pengalaman tersebut mendorong&#13;
pemaknaan ulang terhadap agama, yakni agama yang semula dipahami sebagai&#13;
pedoman hidup, kemudian dimaknai ulang sebagai sesuatu yang merusak. Dari kondisi&#13;
tersebut, muncul orientasi pada nilai-nilai sebagai jawaban atas nilai keagamaan yang&#13;
dipandang sebagai sumber tekanan sehingga menyebabkan trauma. Nilai tersebut&#13;
diyakini benar dan mengikat, sehingga untuk merealisasikannya, tindakan dekonversi&#13;
perlu ditempuh, meski sadar akan konsekuensi yang menyertai tindakan tersebut.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">200.19 Psikologi Agama</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-18</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>