@mastersthesis{digilib79171, month = {August}, title = {SEMIOTIKA LAFAZ-LAFAZ JARH WA TA'DIL (KAJIAN KITAB ALFAZ WA IBARAT AL-JARH WA AL-TA'DIL BAINA AL-IFRAD WA AL-TAKRIR WA AL-TARKIB WA DALALAT KULLIN MINHA ALA HAL AL-RAWI WA AL-MARWI KARYA AHMAD MA'BAD ABD AL-KARIM)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 24205031013 Muhammad Taufiqqulhidayah Nur Waarits}, year = {2026}, note = {Dr. Abdul Haris, M.Ag.}, keywords = {Jarh wa Ta'dil, Ahmad Ma'bad Abdul Karim, Ferdinand de Saussure, Tarkib, Takrir}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79171/}, abstract = {Kajian ini berangkat dari kecenderungan pemaknaan terminologi jar{\d h} wa ta?d{\=i}l yang acapkali dipahami secara tekstual dan kaku. Pendekatan demikian berisiko memunculkan kekeliruan dalam menilai kredibilitas transmitter serta keabsahan mata rantai sanad. Riset ini dirancang untuk merekonstruksi, menguji, sekaligus memperluas kerangka pemikiran struktural Ahmad Ma?bad Abdul Karim dengan memanfaatkan pisau analisis Semiotika Struktural Ferdinand de Saussure. Melalui metode kualitatif berbasis studi kepustakaan (library research), penelitian ini membedah bagaimana struktur lafaz evaluasi periwayat hadis beroperasi sebagai jaringan tanda yang memiliki logika serta tata bahasa khusus. Studi ini membuahkan tiga temuan mendasar. Pertama, konsep Ahmad Ma?bad terbukti membentuk arsitektur semiotika (langue) yang sistematis, di mana kosa kata jar{\d h} wa ta?d{\=i}l berlaku sebagai sistem penandaan (sign) yang terikat konvensi para pakar hadis (mu{\d s}{\d t}ala{\d h}{\=a}t al-mu{\d h}addi{\.s}{\=i}n), ujaran perseorangan kritikus berkedudukan sebagai tuturan riil (parole), dan jenjang kasta periwayat hadis (mar{\=a}tib) berperan sebagai nilai pembeda (valeur). Kedua, pembentukan makna (signification) terbagi ke dalam tiga pola linguistik: bentuk tunggal (al-ifr{\=a}d) bekerja lewat relasi arbitrer yang dikawal oleh petunjuk internal (qar{\=i}nah dakh{\=i}liyyah) maupun eksternal (qar{\=i}nah kh{\=a}rijiyyah); bentuk pengulangan (at-takr{\=i}r) berfungsi menaikkan derajat periwayat hadis satu tingkat lebih tinggi pada hierarki ta?d{\=i}l; sedangkan bentuk sintaksis (at-tark{\=i}b) memanfaatkan hubungan sintagmatik dan paradigmatik untuk menyatukan kriteria 'ad{\=a}lah dan {\d d}ab{\d t} (tark{\=i}b juz'{\=i}) sekaligus memisahkan secara presisi antara status personal periwayat hadis ({\d h}{\=a}l al-r{\=a}w{\=i}) dan catatan atas riwayat tertentu ({\d h}{\=a}l al-marw{\=i}) melalui tark{\=i}b kull{\=i}. Ketiga, riset ini mengonfirmasi adanya keselarasan epistemologis yang saling menguatkan antara teori Semiotika Saussurean dengan tradisi kritik sanad klasik, di mana teori modern ini hadir sebagai sarana verifikasi teoretis yang menyingkap logika bahasa para ahli hadis.} }