@incollection{digilib79173, booktitle = {Jalinan Ilmu dan Peradaban: Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Informas}, title = {Masjid Sebagai Simbol dan Medan Budaya Studi Kasus Masjid Al-Falah Kerto, Pleret, Bantul, Yogyakarta}, author = {- Imam Muhsin}, address = {Yogyakarta}, publisher = {Idea Press}, year = {2025}, pages = {155--172}, keywords = {Masjid, Simbol dan Medan Budaya; Masjid Al Falah}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79173/}, abstract = {Artikel mengenai Masjid al-Falah di Kerto, Pleret, Bantul, Yogyakarta, mengungkapkan betapa pentingnya peran masjid sebagai lebih dari sekadar tempat ibadah; ia merupakan simbol hidup yang merefleksikan identitas budaya masyarakat setempat. Dalam konteks yang kaya akan sejarah dan tradisi, masjid ini telah menjadi pusat aktivitas sosial, pendidikan, dan kebudayaan yang memperkuat kohesi sosial di antara warga. Sejarah Kerto, yang pernah menjadi ibukota Mataram-Islam, memberikan latar belakang yang mendalam tentang akar budaya masyarakatnya. Tradisi-tradisi keagamaan, seperti praktik adzan dua kali dan adzan limo, menunjukkan upaya gigih masyarakat untuk melestarikan warisan leluhur mereka. Dalam menghadapi perubahan yang dibawa oleh Muhammadiyah, masyarakat Kerto menunjukkan keteguhan hati untuk mendirikan Masjid al-Falah sebagai representasi keyakinan dan nilai-nilai yang mereka anut. Peran tokoh agama, khususnya para kyai, sangat sentral dalam proses ini. Mereka tidak hanya menjadi pemimpin spiritual, tetapi juga penggerak masyarakat untuk bersatu dalam membangun masjid yang mencerminkan identitas mereka. Melalui peran ini, masjid al-Falah menjadi lebih dari sekadar bangunan fisik; ia menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tempat di mana pengetahuan dan nilai-nilai Islam diajarkan dan dipraktikkan. Secara keseluruhan, Masjid al-Falah berfungsi sebagai simbol kekuatan budaya dan identitas masyarakat Kerto. Ia terus berkembang, beradaptasi dengan konteks sosial dan budaya yang ada, sekaligus memperkuat ikatan komunitas. Artikel ini memberikan wawasan berharga dalam memahami hubungan sinergis antara agama dan budaya, serta pentingnya masjid dalam memperkuat struktur sosial di tingkat lokal. Dengan demikian, Masjid al-Falah tidak hanya menjadi ruang suci, tetapi juga menjadi jantung kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang mengelilinginya.} }