<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>KONSEP ‘IDDAH DALAM KONTEKS LATE ANTIQUITY (INTERTEKSTUALITAS QS. AL-BAQARAH [2]: 234 DENGAN LITERATUR RABINIK)</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031031</mods:namePart><mods:namePart type="family">Falakul Hidayah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Masa ‘iddah adalah sebuah ketetapan untuk seorang perempuan dengan&#13;
berbagai konsepnya. Dalam literatur Islam masa iddah bagi perempuan yang&#13;
ditinggal mati suaminya terdapat dalam pembahasan QS. al-Baqarah [2]: 234,&#13;
disebutkan masa ‘iddah dengan istilah yatarabbaṣna sebagai ‘menunggu dirinya’&#13;
dengan bilangan empat bulan sepuluh hari. Memahami wacana ‘iddah dalam ayat&#13;
tersebut, al-Qur’an ditempatkan dalam konteks kemunculanya pada masa late&#13;
antiquity sebagaimana periode sejarah yang menyebutkan sekitar abad ke-4 sampai&#13;
abad-8 M. Hal tersebut tentu akan menjadi alat untuk melihat historisitas ayat&#13;
tersebut dan menghasilkan pemahaman yang objektif berdasarkan data sejarah yang&#13;
telah lama berkembang.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis libarary research&#13;
dengan pendekatan intertekstualitas Angelika Neuwirth dengan melihat Prakanonisasi&#13;
sebagai konteks awal historitas al-Qur’an yang dimana turun dan belum&#13;
dibukukan serta merupakan bagian dari tradisi late antiquity. Dalam pengumpulan&#13;
data, penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk menelusuri data&#13;
historis dan data-data yang telah ada sejak dulu, adapun teknik analisis data yang&#13;
digunakan untuk menyajikan dan mengolah data dalam penelitian ini adalah&#13;
deskriptif-analitik, sebagaimana yang memperlihatkan data-data terkait masa&#13;
‘iddah.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan dua kesimpulan. Pertama, wacana dan&#13;
kontruksinya masa ‘iddah dalam masing-masing bilangan dari Al-Qur’an dan&#13;
Talmud Bavli memiliki paralelisme konseptual yang sama-sama berorientasi pada&#13;
aspek biologis. Al-Qur’an menyebutkan, melihat kekosongan rahim seorang&#13;
perempuan dengan tujuan agar tidak tercampur nasab anak. Sedangkan dalam&#13;
Talmud Bavli, agar tidak bercampur benih dengan suami pertama dan suami kedua,&#13;
karena pandangan masyarakat late antiquity seorang perempuan yang ditinggal&#13;
suaminya dianggap masih menyimpan noda suami yang melekat dalam rahimnya.&#13;
Kedua, dari analisis intertekstualitas al-Qur’an memposisikan sebagai pemeran&#13;
aktif dalam dialektika narasi hukum, yang telah hadir dan mengonfirmasi wacana&#13;
masa berkabung yang sudah ada. Dengan demikian, QS. al-Baqarah [2]: 234&#13;
sebagaimana tidak lahir dalam konsep wacana baru, namun kehadirannya secara&#13;
aktif berpartisipasi dalam diskursus kebudayaan late antiquity.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.122 Quran, Al-Qur'an, Alquran</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-07-28</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>