TY - THES N1 - Prof. Dr. Nurun Najwah, M.Ag. ID - digilib79204 UR - https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79204/ A1 - Fathimah Azzahra Safrizal, NIM.: 24205031046 Y1 - 2026/07/27/ N2 - Al-Qur'an dalam pengalaman keagamaan umat Islam Indonesia tidak berhenti sebagai teks yang hanya dibaca, melainkan terus hidup dan dihidupkan oleh komunitas pembacanya, termasuk dalam komunitas kaderisasi politik-religius seperti Unit Pembinaan Anggota (UPA) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yogyakarta. Fenomena ini menjadi menarik dibaca ketika ayat-ayat yang beredar dalam pembinaan tersebut turut bersinggungan dengan dakwah digital tokoh PKS yang kerap memperoleh penekanan makna tertentu menjelang Pemilu, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana ayat-ayat itu diterima oleh anggota UPA sebagai arena resepsinya. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan, yaitu ayat-ayat apa yang memperoleh penekanan politik dalam dakwah digital tokoh PKS, bagaimana bentuk resepsi anggota UPA terhadap ayat-ayat tersebut, dan faktor-faktor apa yang melatarbelakanginya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif jenis field research dengan payung konseptual Living Qur'an, ditunjang teori encoding/decoding Stuart Hall untuk membaca bentuk resepsi dan konsep habitus, arena, serta modal simbolik Pierre Bourdieu untuk membaca faktor pembentuknya. Data dihimpun dari tiga korpus utama dakwah digital, yaitu ceramah Ahmad Rusydi yang menekankan Q.S. Ali Imran [3]: 110 dan Q.S. Al-Anfal [8]: 45?46 sebagai landasan soliditas kader, Hidayat Nur Wahid yang menekankan Q.S. Al-Ma'idah [5]: 2 dan Q.S. An-Nahl [16]: 125?126 sebagai landasan kriteria kepemimpinan profetik, serta Mardani Ali Sera yang menarik Q.S. Al-Anbiya [21]: 107 ke dalam visi kepemimpinan nasional berbasis etik dan teknokrasi. Data lapangan dihimpun dari wawancara mendalam terhadap delapan informan yang dipilih secara purposive berdasarkan lama keanggotaan dan intensitas akses dakwah digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak satu pun informan menempati posisi resepsi dominan secara konsisten di ketiga korpus, korpus Ahmad Rusydi menghasilkan polarisasi resepsi paling tajam termasuk satu-satunya posisi oposisi dalam penelitian ini, sementara korpus Hidayat Nur Wahid menghasilkan resepsi negosiasi dari seluruh delapan informan tanpa terkecuali. Keberagaman ini terbentuk terutama oleh habitus keagamaan yang telah terbentuk kuat sebelum seseorang memasuki UPA serta modal kepercayaan kepada murabbi yang melampaui modal simbolik tokoh digital manapun, bukan karena lama keanggotaan di UPA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberagaman posisi resepsi tersebut menjadi bukti bahwa Al-Qur'an sungguh-sungguh hidup di tengah komunitas kader, tumbuh melalui negosiasi yang terus-menerus, dibacakan, didiskusikan, diterapkan bahkan dikritisi, bukan melalui keseragaman penerimaan yang patuh. PB - UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA KW - Living Qur'an KW - Resepsi KW - Politik KW - Kader M1 - masters TI - RESEPSI ANGGOTA UPA PKS YOGYAKARTA TERHADAP AYAT-AYAT AL-QUR'AN DALAM DAKWAH DIGITAL TOKOH PKS AV - restricted EP - 210 ER -