<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>NILAI-NILAI SOSIAL PROFETIK DALAM QS. AL-AN’AM (6): 74-79 SERTA RELEVANSINYA TERHADAP FLEXING DAN HEDONISME MAHASISWA MUSLIM YOGYAKARTA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031104</mods:namePart><mods:namePart type="family">Muhammad Salman Alfaruqi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini berangkat dari problem Pergeseran orientasi nilai dalam&#13;
fenomena flexing dan hedonism dikalangan mahasiswa Muslim, yaitu ketika citra,&#13;
status, kepemilikan, validasi sosial, dan kesenangan dijadikan ukuran keberhasilan&#13;
hidup. Problem ini penting dibaca melalui QS. Al-An’am (6): 74–79 karena ayat&#13;
tersebut memuat kritik Nabi Ibrahim terhadap kecenderungan manusia&#13;
mengagungkan sesuatu yang terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai&#13;
humanisasi, liberasi, dan transendensi dalam QS. Al-An’am (6): 74–79 melalui&#13;
Ilmu Sosial Profetik Kuntowijoyo serta menjelaskan relevansinya terhadap&#13;
fenomena flexing dan hedonisme mahasiswa Muslim, khususnya dalam konteks&#13;
Yogyakarta.&#13;
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan. Sumber&#13;
primer penelitian ini adalah QS. Al-An’am (6): 74–79, kitab-kitab tafsir, dan karya&#13;
Kuntowijoyo tentang Ilmu Sosial Profetik. Sumber sekunder meliputi buku, artikel&#13;
jurnal, skripsi, tesis, dan karya ilmiah lain yang berkaitan dengan tafsir QS. Al-&#13;
An’am (6): 74–79, Ilmu Sosial Profetik, flexing, hedonisme, budaya digital, dan&#13;
gaya hidup konsumtif mahasiswa Muslim. Data dianalisis secara deskriptif-analitis&#13;
dengan menempatkan humanisasi, liberasi, dan transendensi sebagai kategori&#13;
pembacaan.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa QS. Al-An’am (6): 74–79 memuat&#13;
nilai sosial profetik yang tampak dalam narasi Nabi Ibrahim. Nilai humanisasi&#13;
terlihat pada upaya memulihkan manusia sebagai makhluk berakal dan bermartabat&#13;
melalui dialog, kritik, dan penyadaran terhadap kelemahan objek-objek yang&#13;
diposisikan secara keliru sebagai Tuhan. Nilai liberasi tampak pada pembebasan&#13;
manusia dari pengetahuan palsu, tradisi sosial-keagamaan yang membelenggu,&#13;
serta orientasi hidup yang menempatkan sesuatu yang terbatas sebagai pusat&#13;
penghambaan. Nilai transendensi menjadi puncak dari keseluruhan proses tersebut,&#13;
yaitu penghadapan diri kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi dalam&#13;
keadaan ḥanīf. Relevansinya terhadap flexing dan hedonisme terletak pada kritik&#13;
terhadap pergeseran orientasi nilai manusia modern. Flexing dan hedonisme tidak&#13;
disamakan secara literal dengan penyembahan berhala, tetapi dibaca secara&#13;
analogis sebagai kecenderungan memberi nilai berlebihan kepada citra, status,&#13;
kepemilikan, popularitas, validasi sosial, konsumsi, dan kesenangan. Dengan&#13;
demikian, QS. Al-An’am (6): 74–79 melalui Ilmu Sosial Profetik menawarkan&#13;
kritik terhadap budaya citra dan konsumsi sekaligus mengarahkan manusia agar&#13;
kembali menempatkan Allah sebagai pusat nilai kehidupan.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.122 Quran, Al-Qur'an, Alquran</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-03</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>