%A NIM.: 24205031131 Muhammad Falihul Anam %O Dr. Siti Khodijah Nurul Aula. M.Ag. %T RELASI INTERTEKSTUAL TAFSIR AYAT-AYAT MUNASABAH ANTARA TAFSIR AL-MISBAH DAN NAZM AL-DURAR DALAM PERSPEKTIF JULIA KRISTEVA %X Penelitian ini membahas relasi intertekstual ayat-ayat munāsabah antara Tafsir Al- Misbah karya M. Quraish Shihab dan Naẓm Al-Durar fī Tanāsub Al-Āyāt wa Al- Suwar karya Burhān Al-Dīn Al-Biqā’ī dalam perspektif Julia Kristeva. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keterkaitan penafsiran antara kedua tafsir dalam menjelaskan hubungan antarayat, terutama karena Quraish Shihab secara eksplisit merujuk kepada penafsiran Al-Biqā’ī dalam beberapa pembahasan munāsabah. Untuk membatasi kajian, penelitian ini difokuskan pada tujuh ayat, yaitu QS. Al- Baqarah [2]: 51, 111, dan 284; QS. Al-Mā’idah [5]: 6, 8, dan 27; serta QS. Al- An‘ām [6]: 19. Ketujuh ayat tersebut dipilih karena menunjukkan adanya keterkaitan penafsiran antara Al-Misbah dan Naẓm Al-Durar dalam menjelaskan munāsabah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik penafsiran munāsabah dalam kedua tafsir, menganalisis relasi munāsabah antara Tafsir Al- Miṣbāḥ dan Tafsir Naẓm Al-Durar pada QS. Al-Baqarah ayat 51, 111, dan 284; QS. Al-Mā’idah ayat 6, 8, dan 27; serta QS. Al-An’ām ayat 19, serta menganalisis relasi intertekstual melalui perspektif Julia Kristeva. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian berupa Tafsir Al-Misbah dan Naẓm Al-Durar, sedangkan sumber sekundernya berupa buku, karya ilmiah, dan literatur yang berkaitan dengan munāsabah serta teori intertekstualitas Julia Kristeva. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis secara deskriptif-analitis melalui analisis internal teks, konteks eksternal, pola intertekstualitas, dan ideologeme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tafsir memiliki kesamaan orientasi dalam menempatkan munāsabah sebagai instrumen untuk menjelaskan keterpaduan makna antarayat. Al-Biqā’ī menjadikan munāsabah sebagai fondasi utama penafsiran dengan analisis struktural yang sistematis, sedangkan Quraish Shihab mempertahankan kerangka tersebut dengan mengembangkannya melalui penyajian yang lebih komunikatif, kontekstual, dan aplikatif. Relasi antara kedua tafsir menunjukkan bahwa Naẓm Al- Durar berfungsi sebagai hipogram bagi Al-Misbah. Bentuk intertekstualitas yang ditemukan meliputi transformasi, ekspansi, modifikasi, haplologi, paralel, dan eksistensi, dengan transformasi sebagai bentuk yang paling dominan. Dalam perspektif Julia Kristeva, relasi tersebut juga memperlihatkan tiga kecenderungan ideologeme, yaitu transformasi, transposisi, dan oposisi. Transformasi tampak pada pengolahan kembali gagasan Al-Biqā’ī dengan mempertahankan substansi pokoknya; transposisi terlihat pada pergeseran orientasi penyajian dari struktur penafsiran yang lebih teknis menuju penyajian yang komunikatif dan kontekstual; sedangkan oposisi muncul secara terbatas dalam bentuk seleksi kritis terhadap uraian yang kurang relevan dengan kebutuhan pembaca modern. Dengan demikian, relasi antara Tafsir Al-Misbah dan Naẓm Al-Durar bukan merupakan reproduksi atau penyalinan semata, melainkan dialog intertekstual yang kreatif dan produktif, di mana gagasan Al-Biqā’ī diserap, diolah, dan dikontekstualisasikan oleh Quraish Shihab sesuai dengan kebutuhan pembaca Indonesia kontemporer. %K Tafsir Al-Misbah, Nazm Al-Durar, munasabah, intertekstualitas, Julia Kristeva %D 2026 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib79232