    {
      "department": "FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM",
      "subjects": [
        297.12
      ],
      "eprintid": 79233,
      "thesis_type": "masters",
      "date": "2026-08-11",
      "userid": 12460,
      "documents": [
          {
            "language": "id",
            "placement": 1,
            "eprintid": 79233,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-10-16 06:41:51",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1886111,
                  "objectid": 1084634,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1886111",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "98489b6fad9da38c222280dade92f1b1",
                  "filesize": 8773040,
                  "filename": "24205031132_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1084634",
            "main": "24205031132_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1084634,
            "format": "text",
            "security": "public",
            "pos": 1,
            "formatdesc": "AGAMA AL-QUR’AN: KONSEPSI HUDA, DIN, ISLAM DAN MILLAH DALAM DIALEKTIKA PEWAHYUAN"
          },
          {
            "language": "id",
            "placement": 2,
            "eprintid": 79233,
            "files": [
                {
                  "hash_type": "MD5",
                  "mtime": "2026-10-16 06:42:02",
                  "datasetid": "document",
                  "fileid": 1886114,
                  "objectid": 1084635,
                  "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/file\/1886114",
                  "mime_type": "application\/pdf",
                  "hash": "dac12cd52535cd31e8a95000dffffa97",
                  "filesize": 17383767,
                  "filename": "24205031132_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf"
                }
            ],
            "content": "published",
            "rev_number": 3,
            "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/document\/1084635",
            "main": "24205031132_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf",
            "mime_type": "application\/pdf",
            "docid": 1084635,
            "format": "text",
            "security": "validuser",
            "pos": 2,
            "formatdesc": "AGAMA AL-QUR’AN: KONSEPSI HUDA, DIN, ISLAM DAN MILLAH DALAM DIALEKTIKA PEWAHYUAN"
          }
      ],
      "rev_number": 10,
      "creators": [
        {
          "name": {
            "lineage": null,
            "given": "NIM.: 24205031132",
            "honourific": null,
            "family": "Minkhatul Maula Sofa"
          }
        }
      ],
      "dir": "disk0\/00\/07\/92\/33",
      "keywords": "Agama Al-Qur’an, Semantik-Kronologis, Dialog Pewahyuan",
      "lastmod": "2026-10-16 07:09:39",
      "ispublished": "pub",
      "metadata_visibility": "show",
      "date_type": "published",
      "eprint_status": "archive",
      "status_changed": "2026-10-16 07:09:39",
      "datestamp": "2026-10-16 07:09:39",
      "uri": "http:\/\/digilib.uin-suka.ac.id\/id\/eprint\/79233",
      "thesis_name": "other",
      "note": "Dr. Phil. Fadhli Lukman, M.Hum.",
      "full_text_status": "restricted",
      "contact_email": "muh.khabib@uin-suka.ac.id",
      "divisions": [
        "pr_iat_s2"
      ],
      "abstract": "Pengkajian kosakata mengenai agama dalam Al-Qur’an, masih terus menjadi\r\nperdebatan dikalangan akademisi. Konsepsi agama modern yang seringkali\r\nmerujuk pada kata religion, dinilai tidak sebanding untuk menjelaskan konsepsi\r\nagama yang merujuk pada istilah dīn. Disisi lain, istilah dīn sebetulnya juga tidak\r\nsepenuhnya dapat menjelaskan konsepsi agama dalam Al-Qur’an, karena Al-\r\nQur’an memiliki terminologi yang lebih luas untuk menjelaskan konsep agama, di\r\nantaranya istilah hudā, dīn, millah dan islām. Pada saat yang sama, studi-studi yang\r\nada kerapkali memahami istilah-istilah ini secara partikular. Akibatnya, maknanya\r\nmenjadi tumpang tindih dan kosakata al-Qur’an yang seharusnya memiliki makna\r\nyang luas menjadi sempit atau sebaliknya yang sempit menjadi terlalu luas. Selain\r\nitu, adapula yang menempatkan keempat istilah ini sebagai sinonim, sehingga\r\nmakna yang seharusnya dinamis menjadi statis. Padahal, baik hudā, dīn, islām\r\nmaupun millah memiliki makna yang kompleks dan berkembang sesuai konteks\r\npenggunaannya sepanjang pewahyuan.\r\nAlih-alih menempatkan keempat istilah ini secara sinonim, melalui\r\npembacaan semantik-kronologis, dengan memadukan teori semantik Izutsu, tartib\r\nnuzuli sekaligus teori dialektika Nasr Hamid, penelitian ini akan melihat konsepsi\r\nagama Al-Qur’an melalui evolusi makna hudā, dīn, islām dan millah. Hasil\r\npembacaan ini memperlihatkan medan semantik yang kompleks dan pemaknaan\r\nyang meluas atau sebaliknya, seiring dengan perkembangan dakwah nabi dengan\r\npaganisme Arab dan Ahli Kitab. Saat berhadapan dengan pagan, mula-mula Al-\r\nQur’an mengkonsepsikan agama dengan istilah hudā sebagai wahyu, yakni\r\nseperangkat petunjuk yang bersumber dari Allah sekaligus menjadi orientasi akhir\r\ndari setiap pewacanaan agama dalam setiap kata lainnya. Konsepsi wahyu tersebut\r\nkemudian mentransendensikan konsepsi agama dalam istilah dīn dan islām sebagai\r\nsistem yang meliputi keyakinan, tatanan moral dan sosial, dengan menjadikan\r\nwahyu sebagai tolak ukur dan eskatologis sebagai medan pertanggungjawabannya.\r\nAdapun saat berhadapan dengan Ahli Kitab, konsepsi agama bukan lagi\r\nmembangun wahyu. Istilah hudā digunakan untuk memposisikan diri sebagai\r\nwacana keberlanjutan agama terdahulunya dengan mengakui keabsahan Taurat dan\r\nInjil. Adapun istilah dīn dan islām dikonsepsikan untuk merubah hukum-hukum\r\nyang sebelumnya hanya berlaku secara khusus untuk Ahli Kitab, menjadi universal\r\nyang berlaku bagi semua kelompok. Sepanjang pewahyuan, konsepsi agama\r\nmembutuhkan dua legitimasi saat berhadapan dengan audiensnya, yaitu legitimasi\r\nketransendensian dengan istilah hudā, dan legitimasi historis dengan istilah millah.\r\nKonsepsi millah berfungsi mengeneralisasi tolak ukur penganut agama Ibrahim\r\nbukanlah ditentukan berdasarkan nasab secara biologis sebagaimana pandangan\r\nQuraisy, melainkan siapa saja yang mengikuti Ibrahim secara spiritual. Selain itu,\r\nkelompok yang berhak disebut sebagai penerus agama Ibrahim juga bukan Yahudi\r\nataupun Kristen, melainkan mereka yang beragama berdasarkan prinsip\r\nmonoteisme murni(tauhid).",
      "type": "thesis",
      "title": "AGAMA AL-QUR’AN: KONSEPSI HUDA, DIN, ISLAM DAN MILLAH DALAM DIALEKTIKA PEWAHYUAN",
      "institution": "UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA",
      "pages": 148
    }