<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>AGAMA AL-QUR’AN: KONSEPSI HUDA, DIN, ISLAM DAN MILLAH DALAM DIALEKTIKA PEWAHYUAN</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205031132</mods:namePart><mods:namePart type="family">Minkhatul Maula Sofa</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Pengkajian kosakata mengenai agama dalam Al-Qur’an, masih terus menjadi&#13;
perdebatan dikalangan akademisi. Konsepsi agama modern yang seringkali&#13;
merujuk pada kata religion, dinilai tidak sebanding untuk menjelaskan konsepsi&#13;
agama yang merujuk pada istilah dīn. Disisi lain, istilah dīn sebetulnya juga tidak&#13;
sepenuhnya dapat menjelaskan konsepsi agama dalam Al-Qur’an, karena Al-&#13;
Qur’an memiliki terminologi yang lebih luas untuk menjelaskan konsep agama, di&#13;
antaranya istilah hudā, dīn, millah dan islām. Pada saat yang sama, studi-studi yang&#13;
ada kerapkali memahami istilah-istilah ini secara partikular. Akibatnya, maknanya&#13;
menjadi tumpang tindih dan kosakata al-Qur’an yang seharusnya memiliki makna&#13;
yang luas menjadi sempit atau sebaliknya yang sempit menjadi terlalu luas. Selain&#13;
itu, adapula yang menempatkan keempat istilah ini sebagai sinonim, sehingga&#13;
makna yang seharusnya dinamis menjadi statis. Padahal, baik hudā, dīn, islām&#13;
maupun millah memiliki makna yang kompleks dan berkembang sesuai konteks&#13;
penggunaannya sepanjang pewahyuan.&#13;
Alih-alih menempatkan keempat istilah ini secara sinonim, melalui&#13;
pembacaan semantik-kronologis, dengan memadukan teori semantik Izutsu, tartib&#13;
nuzuli sekaligus teori dialektika Nasr Hamid, penelitian ini akan melihat konsepsi&#13;
agama Al-Qur’an melalui evolusi makna hudā, dīn, islām dan millah. Hasil&#13;
pembacaan ini memperlihatkan medan semantik yang kompleks dan pemaknaan&#13;
yang meluas atau sebaliknya, seiring dengan perkembangan dakwah nabi dengan&#13;
paganisme Arab dan Ahli Kitab. Saat berhadapan dengan pagan, mula-mula Al-&#13;
Qur’an mengkonsepsikan agama dengan istilah hudā sebagai wahyu, yakni&#13;
seperangkat petunjuk yang bersumber dari Allah sekaligus menjadi orientasi akhir&#13;
dari setiap pewacanaan agama dalam setiap kata lainnya. Konsepsi wahyu tersebut&#13;
kemudian mentransendensikan konsepsi agama dalam istilah dīn dan islām sebagai&#13;
sistem yang meliputi keyakinan, tatanan moral dan sosial, dengan menjadikan&#13;
wahyu sebagai tolak ukur dan eskatologis sebagai medan pertanggungjawabannya.&#13;
Adapun saat berhadapan dengan Ahli Kitab, konsepsi agama bukan lagi&#13;
membangun wahyu. Istilah hudā digunakan untuk memposisikan diri sebagai&#13;
wacana keberlanjutan agama terdahulunya dengan mengakui keabsahan Taurat dan&#13;
Injil. Adapun istilah dīn dan islām dikonsepsikan untuk merubah hukum-hukum&#13;
yang sebelumnya hanya berlaku secara khusus untuk Ahli Kitab, menjadi universal&#13;
yang berlaku bagi semua kelompok. Sepanjang pewahyuan, konsepsi agama&#13;
membutuhkan dua legitimasi saat berhadapan dengan audiensnya, yaitu legitimasi&#13;
ketransendensian dengan istilah hudā, dan legitimasi historis dengan istilah millah.&#13;
Konsepsi millah berfungsi mengeneralisasi tolak ukur penganut agama Ibrahim&#13;
bukanlah ditentukan berdasarkan nasab secara biologis sebagaimana pandangan&#13;
Quraisy, melainkan siapa saja yang mengikuti Ibrahim secara spiritual. Selain itu,&#13;
kelompok yang berhak disebut sebagai penerus agama Ibrahim juga bukan Yahudi&#13;
ataupun Kristen, melainkan mereka yang beragama berdasarkan prinsip&#13;
monoteisme murni(tauhid).</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">297.122 Quran, Al-Qur'an, Alquran</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-11</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>