@phdthesis{digilib79251, month = {August}, title = {GERAKAN KEPANDUAN HIZBUL WATHAN DI KWARTIR PUSAT TAHUN 1961-1999 M}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 18101020057 Marselina Cahya Murti}, year = {2025}, note = {Siti Maimunah, S. Ag., M.Hum.}, keywords = {Hizbul Wathan, Gerakan Pramuka, Peleburan Kepanduan, Perubahan Sosial, Rekonsiliasi}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79251/}, abstract = {Penelitian ini mengkaji dinamika Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) pada masa peleburan ke dalam Gerakan Pramuka tahun 1961?1999. Fokus penelitian meliputi kondisi kepanduan Indonesia menjelang peleburan, perjalanan HW sepanjang masa peleburan, serta dampak kebijakan tersebut terhadap eksistensi HW. Metode yang digunakan adalah metode sejarah dengan empat tahapan, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pendekatan yang dipakai adalah sejarah sosial dengan dukungan teori perubahan Kurt Lewin serta teori behavioral untuk menganalisis respon HW terhadap kebijakan politik negara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peleburan melalui Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961 membuat HW kehilangan status formal sebagai organisasi kepanduan independen. Namun, HW tidak sepenuhnya hilang. Di bawah naungan Muhammadiyah, HW tetap mempertahankan nilai dan tradisi kepanduan melalui berbagai jalur, antara lain Pandu Wreda sebagai wadah alumni dan penjaga memori organisasi, Sekolah Sepak Bola HW yang membina kedisiplinan dan kerjasama kader, serta Pekan Olahraga HW sebagai sarana konsolidasi dan penguatan identitas. Strategi ini menunjukkan bentuk adaptasi kultural: secara formal HW melebur ke dalam Pramuka, tetapi secara substantif tetap hidup dalam ruang-ruang sosial Muhammadiyah. Analisis teori perubahan Kurt Lewin memperlihatkan bahwa HW melewati fase unfreezing (pencairan identitas organisasi pasca 1961), changing (adaptasi melalui kegiatan internal di bawah bayang-bayang Pramuka), dan refreezing (reaktivasi resmi pada 1999). Sementara teori behavioral menegaskan bahwa kebijakan peleburan merupakan stimulus eksternal, sedangkan respon HW adalah penerimaan formal yang disertai resistensi kultural. Dengan demikian, perjalanan HW pada periode ini menggambarkan resiliensi organisasi yang mampu bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali. Selain itu, rekonsiliasi HW dengan Pramuka menegaskan bahwa keduanya tidak berdiri sebagai lawan, melainkan sama-sama berkontribusi bagi pembinaan generasi muda Indonesia.} }