@phdthesis{digilib79271, month = {June}, title = {?? ????? ????? ????? ???? ?? ???? ??? ????? (????? ??????? ?? ???????) (SIRRU TASMIYATI ASMA' AL NABIYYI MUHAMMAD FI MAWLID SIMT AL DURAR (DIRASAH TAHLILIYAH FI AL DALALAH))}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 19101010086 Ufiya Munaya Sahla}, year = {2025}, note = {Dr. H. Habib, S. Ag M Ag.}, keywords = {??? ???????? ????? ???????? ??? ?????? ????? ??? ?? (Semantik, Simth Al-Durar, Asma? Al-Nabi)}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79271/}, abstract = {Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keindahan bahasa dalam variasi penyebutan nama Nabi Muhammad yang penuh nilai estetika dan religius dalam Kitab Maulid Sim{\d t} al-Durar karya Habib Ali bin Muhammad Husein al-Habsyi. Fenomena ini menarik untuk dikaji secara semantik, dan teori penamaan karena merefleksikan dimensi budaya, sejarah, dan spiritualitas Islam. Tujuan penelitian adalah mengungkap bagaimana variasi penamaan Nabi Muhammad merepresentasikan kekayaan estetika sekaligus menyampaikan makna dan pesan dakwah yang mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data primer bersumber dari teks Sim{\d t} al-Durar, sedangkan data sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel relevan. Metode pengumpulan data menggunakan metode studi pustaka, simak, dan teknik catat. Analisis data dilakukan melalui content analysis yang diperkuat dengan teori semantik, serta teori penamaan (onomasiologi) dalam tradisi Asm{\=a}? al-Nab{\=i}, yang memandang bahwa setiap nama atau gelar Nabi memiliki dimensi teologis, kultural, dan kontekstual tersendiri. Validitas penelitian dijaga melalui triangulasi sumber dan penyajian data secara sistematis sesuai kategori analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Variasi penyebutan nama dan gelar Nabi, seperti al-{\d H}ab{\=i}b (Kekasih) atau al-?Abd (Hamba), mencerminkan pujian, cinta, dan pengagungan, sejalan dengan fungsi penamaan dalam tradisi Islam; (2) Pilihan gelar bersifat kontekstual, misalnya al-Sayyid (Tuan) untuk menonjolkan kemuliaan kemanusiaan Nabi, atau al-?Abd untuk menegaskan relasi penghambaan kepada Allah; (3) Pemilihan kata mempertimbangkan estetika bunyi dan rima, serta penggunaan kata tunjuk "h{\=a}dz{\=a}" (ini) untuk memperkuat kedekatan emosional dan spiritual. Temuan ini menegaskan bahwa Sim{\d t} al-Durar tidak hanya bernilai sastra religius, tetapi juga menjadi medium simbolik yang memperkaya identitas budaya dan spiritual umat Islam.} }