@phdthesis{digilib79336, month = {June}, title = {?????? ????? ????????? ?? ??????? ???? ??? ???? ????? ?????? (????? ??????? ???????? ????? ????? ???) = MU'ANAT AL SHU'BI AL FALISTIN FI AL RIWAYAH 'AID ILA HAIFA LI GHASSAN KANAFANI (DIRASAH TAHLILIYAH IJTIMA'IYYAH ADABIYYAH LI IAN WATT)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 21101010097 Umi Fadilatul Azimah}, year = {2025}, note = {Prof. Dr. Yulia Nasrul Latifi, S.Ag M.Hum.}, keywords = {???????? ?????? ??? ???? ??????? ??? ?????????? ???? ????? ??? ???? ??? ????, Penderitaan Palestina, Ghassan Kanafani, Sosiologi Sastra Ian Watt, ?A?id Ila Haifa}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79336/}, abstract = {Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk-bentuk penderitaan masyarakat Palestina yang digambarkan dalam novel ?{\=A}?id il{\=a} {\d H}a{\=i}f{\=a} karya Ghassan Kanafani, serta untuk menganalisis makna sosial di balik penderitaan tersebut melalui pendekatan sosiologi sastra Ian Watt. Novel ini dipilih karena merupakan karya sastra yang kuat dalam merepresentasikan tragedi dan realitas sosial-politik yang dihadapi bangsa Palestina, khususnya akibat peristiwa pengusiran besar-besaran pada tahun 1948. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Metode pengumpulan data dilakukan menggunakan metode Simak-baca teks, kemudian dilanjut dengan metode analisis data yaitu metode dialektik berdasarkan teori sosiologi sastra Ian Watt yang menekankan hubungan antara karya sastra dengan konteks sosial masyarakatnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penderitaan dalam novel ini tercermin melalui kehilangan identitas sebagai warga Palestina, tempat tinggal, serta konflik emosional akibat keterpisahan dan ketidakberdayaan. Ghassan Kanafani berhasil menyuarakan realitas pahit bangsa Palestina berupa kenyataan hidup yang penuh penderitaan akibat kehilangan tanah air, melalui simbol dan narasi yang sesuai dengan Masyarakat Palestina. Penelitian ini menegaskan bahwa karya sastra tidak hanya menjadi medium estetika, tetapi juga alat perjuangan dan refleksi sosial terhadap ketidakadilan.} }