%A NIM.: 91531143 Nur Rokhman %O Drs.H. Kusmin Busyairi, M.A (Digitalisasi) %T PANDANGAN MUHAMMAD ABDUH TERHADAP AYAT MUTASYABIHАT (STUDI TERHADAP TAFSIR AL-MANAR) %X Persoalan ayat-ayat muhkamāt dan mutasyābihāt merupakan salah satu kajian penting dan kontroversial dalam bidang al-Qur'an dan tafsir sejak masa awal keislaman, yang sering memicu polemik teologis antara mazhab salaf, khalaf, serta aliran-aliran teologi seperti Mu'tazilah dan Asy'ariyah. Penelitian ini mengkaji bagaimana konsepsi, sikap, dan corak pemahaman seorang tokoh pembaharu muslim abad modern sekaligus mufassir dan teolog, Syaikh Muhammad Abduh, dalam memandang ayat-ayat mutasyābihat melalui karya tafsir utamanya, Tafsir al-Manar. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Sumber primer penelitian ini adalah kitab Tafsir al-Manar karya Muhammad Abduh (khususnya jilid-jilid awal yang murni merefleksikan pemikiran beliau hingga Surat An-Nisa ayat 125) serta karya-karya lain yang relevan. Sumber sekunder mencakup buku-buku literatur mengenai pemikiran Muhammad Abduh, ilmu tafsir, dan perbendaharaan 'ulum al-qur'an. Data dianalisis secara induktif guna menarik kesimpulan yang komprehensif. Hasil Penelitian: Konsepsi Ayat Mutasyabihat: Menurut Muhammad Abduh, ayat-ayat mutasyābihat adalah ayat-ayat yang di dalam lafal dan maknanya terdapat unsur kesamaran atau keserupaan (tasyābuh) dari dua perkara atau lebih. Cakupannya meliputi ayat-ayat mujmal, mansūkh, zannī ad-dalālah, mubham, mutlaq, 'āmm, kisah-kisah (qissah), perumpamaan (amsāl), fawātih as-suwar, qasam (sumpah Allah), berita gaib, serta ayat-ayat sifat. Peran Akal dan Sikap Terhadap Mutasyabihat: Muhammad Abduh berpendapat bahwa seluruh ayat al-Qur'an pada dasarnya dapat dipahami maknanya sejauh kapasitas kemampuan akal dan penalaran manusia. Dalam menyikapi ayat mutasyābihat (seperti tentang sifat-sifat Tuhan, 'Arasy, Kursi, dan Wajah), ia cenderung kontekstual dan fungsional—menghindari pemahaman antropomorfisme (tajsīm), mensucikan Allah (tanzih), serta mengembalikan pemahamannya kepada petunjuk (hidayah) al-Qur'an tanpa terjerumus ke dalam kejumudan taklid. Corak Pemahaman: Corak pemahaman Muhammad Abduh bercorak teologis-rasional dengan pendekatan adab al-ijtimā'i (sastra kemasyarakatan). Ia mendahulukan keyakinan (imān) yang kokoh terhadap substansi agama, namun tetap memaksimalkan fungsi akal untuk menggali hikmah, menolak kebekuan berpikir (jumud), dan membumikan nilai-nilai al-Qur'an sebagai petunjuk hidup umat manusia. Kesimpulan: Muhammad Abduh memandang bahwa ayat-ayat mutasyābihat bukanlah sesuatu yang sama sekali tertutup dari akal manusia. Melalui pendekatan rasional, kontekstual, dan berorientasi pada reformasi sosial serta petunjuk praktis kehidupan, Abduh berhasil mendamaikan antara prinsip pensucian Tuhan (tanzih) dan kebolehan akal dalam memahami pesan-pesan substantif al-Qur'an secara dinamis. Kata Kunci: Ayat Mutasyābihat, Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, Teologi Rasional, Adab al-Ihtimā'i. %K Ayat Mutasyabihat, Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, Teologi Rasional, Adab al-Ihtima'i. %D 1999 %I UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA %L digilib79350