<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>PERAN MODAL SOSIAL DALAM REINTEGRASI SOSIAL DAN EKONOMI PURNA PEKERJA MIGRAN INDONESIA DI KABUPATEN PONOROGO</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22107020055</mods:namePart><mods:namePart type="family">Ahmad Daroini Rizal Fauzi</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Reintegrasi sosial dan ekonomi merupakan tahapan penting yang dihadapi purna Pekerja Migran Indonesia (PMI) setelah kembali ke daerah asal. Keberhasilan reintegrasi tidak hanya dipengaruhi oleh modal ekonomi yang dibawa selama bekerja di luar negeri, tetapi juga oleh kemampuan purna PMI dalam memanfaatkan modal sosial yang dimiliki. Namun demikian, setiap purna PMI menunjukkan tingkat keberhasilan reintegrasi yang berbeda meskipun memiliki pengalaman migrasi yang relatif sama. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengakuan keanggotaan dan tipologi peran purna PMI di dalam jaringan sosial, (2) menganalisis mekanisme konversi modal sosial berdasarkan tipologi agen, dan (3) menjelaskan diferensiasi output serta reproduksi ketimpangan sosial dalam proses reintegrasi purna PMI di Kabupaten Ponorogo berdasarkan perspektif Pierre Bourdieu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap purna PMI di Kabupaten Ponorogo. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui proses reduksi, penyajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teori modal sosial Pierre Bourdieu sebagai pisau analisis. Teori tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana jaringan relasi, pengakuan keanggotaan, akses terhadap sumber daya, serta konversi berbagai bentuk modal membentuk praktik reintegrasi sosial dan ekonomi purna PMI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa purna PMI terbagi ke dalam tiga tipologi agen, yaitu agen strategis, agen partisipatif, dan agen periferal berdasarkan tingkat pengakuan keanggotaan dan posisi mereka di dalam jaringan sosial. Perbedaan posisi tersebut menghasilkan mekanisme konversi modal yang berbeda, di mana agen strategis mampu mengonversi modal sosial menjadi modal ekonomi, budaya, dan simbolik secara berkelanjutan; agen partisipatif memanfaatkan modal sosial untuk menjaga stabilitas sosial-ekonomi rumah tangga; sedangkan agen periferal mengalami keterbatasan dalam mengaktifkan jaringan sosial sehingga mengalami stagnasi ekonomi dan kerentanan sosial. Temuan penelitian menyimpulkan bahwa keberhasilan reintegrasi tidak ditentukan oleh kepemilikan modal sosial semata, melainkan oleh kemampuan agen mengonversi berbagai bentuk modal sesuai posisi mereka di dalam arena sosial. Perbedaan volume kapital yang dimiliki setiap agen menghasilkan praktik reintegrasi yang tidak setara, sehingga arena reintegrasi di Kabupaten Ponorogo tidak hanya menjadi ruang adaptasi pasca-migrasi, tetapi juga mereproduksi struktur ketimpangan sosial sebagaimana dijelaskan dalam perspektif Pierre Bourdieu.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">301 Sosiologi</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-06-18</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>