<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>APROPRIASI KONSEP INTELEK SEBAGAI&#13;
WARISAN PARIPATETIK ISLAM DALAM&#13;
STRUKTUR EPISTEMOLOGI YŪSUF KARAM</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 24205011020</mods:namePart><mods:namePart type="family">Afdalul Ummah</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini memusatkan perhatian pada konsep intelek dalam epistemologi Karam,&#13;
yakni konsepnya tentang akal yang menjangkau wujud secara objektif—akal yang dalam&#13;
pemikiran Karam sendiri tidak berhenti pada penalaran formal, melainkan terarah hingga&#13;
menjangkau yang melampaui materi. Dua pertanyaan yang saling berkaitan diajukan:&#13;
bagaimana struktur epistemologi Yūsuf Karam, dan bagaimana Karam mengapropriasi tradisi&#13;
paripatetik Islam dalam membangun epistemologi tersebut.&#13;
 Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang bercorak historis-faktual atas&#13;
pemikiran tokoh, dengan sumber primer al-ʿAql wa al-Wujūd dan aṭ-Ṭabī‘ah wa Mā Ba‘da aṭṬabī‘ah. Analisis dilakukan dengan pendekatan hermeneutis yang dioperasionalkan melalui&#13;
konsep apropriasi Ricoeur, yang diturunkan menjadi empat dimensi analitis, yakni horizon&#13;
intelektual, seleksi, evaluasi reflektif, dan integrasi. Agar analisis tidak memproyeksikan&#13;
kategori tradisi pembanding ke atas teks Karam, pembacaan selalu berangkat dari teks primer&#13;
Karam terlebih dahulu, baru kemudian diverifikasi terhadap rumusan para tokoh paripatetik&#13;
Islam maupun Thomistik.&#13;
Penelitian ini menemukan, pertama, bahwa epistemologi Karam tersusun sebagai satu&#13;
epistemologi realis yang konsisten, bertumpu pada aktivitas khas akal, abstraksi, akal aktif&#13;
sebagai daya internal jiwa, prinsip-prinsip pertama, dan kesesuaian akal dengan wujud sebagai&#13;
definisi kebenaran, yang keseluruhannya diarahkan melawan arus pemikiran modern. Kedua,&#13;
apropriasi Karam atas tradisi paripatetik berlangsung terutama melalui reorientasi fungsional,&#13;
unsur-unsur yang diwarisi umumnya dipertahankan pada tingkat konsep, namun ditempatkan&#13;
ulang dan diarahkan pada tujuan baru, yaitu mempertahankan objektivitas pengetahuan di&#13;
hadapan pemikiran modern, dengan pengecualian pada konsep akal aktif yang kandungannya&#13;
tidak dipertahankan, sebab Karam justru menolak rumusan para filsuf paripatetik dan condong&#13;
pada posisi Aquinas. Pengecualian ini menegaskan temuan yang lebih mendasar bahwa yang&#13;
berdaulat dalam apropriasi Karam adalah kriteria realis yang berpangkal pada horizon neoThomisnya, selama reorientasi fungsional cukup menopang realisme, kandungan konsep&#13;
dipertahankan, namun ketika tidak lagi cukup, kandungan tersebut diganti. Pada tingkat&#13;
keseluruhan bangunan, hasil apropriasi ini tidak dapat direduksi pada salah satu sumbernya,&#13;
bukan paripatetik Islam dalam bentuk aslinya, bukan pula neo-Thomisme yang sekadar&#13;
dialihbahasakan, melainkan integrasi atas warisan realis yang berakar pada Aristoteles.&#13;
Kata kunci: Yūsuf Karam, apropriasi intelek, epistemologi, tradisi paripatetik Islam, reorientasi fungsional</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Aqidah Filsafat</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-07-29</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>