<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>RESILIENSI EKS KLIEN NAPZA PASCA&#13;
REHABILITASI DI YAYASAN INDOCHARIS SLEMAN&#13;
D.I YOGYAKARTA</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">NIM.: 22102050109</mods:namePart><mods:namePart type="family">Dewi Yanti</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA) tidak hanya&#13;
berdampak pada kondisi fisik dan psikologis individu, tetapi juga memengaruhi&#13;
keberfungsian sosial setelah menyelesaikan rehabilitasi. Eks klien NAPZA&#13;
menghadapi berbagai tantangan ketika kembali ke masyarakat, seperti stigma sosial,&#13;
dorongan untuk kembali menggunakan NAPZA, serta tuntutan untuk menjalani&#13;
kehidupan yang produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses&#13;
resiliensi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong resiliensi eks klien&#13;
NAPZA pasca rehabilitasi di Yayasan Indocharis. Penelitian ini menggunakan metode&#13;
kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan desain studi kasus. Data diperoleh melalui&#13;
wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi dengan sembilan informan yang&#13;
terdiri atas empat informan utama, yaitu R, AC, W, dan WD sebagai eks klien NAPZA&#13;
yang telah menyelesaikan rehabilitasi dan kembali menjalani kehidupan di masyarakat,&#13;
serta lima informan pendukung, yaitu D, DW, dan Sri sebagai istri informan utama,&#13;
MAH sebagai tetangga R, dan Ibu Pinpin sebagai sekretaris sekaligus koordinator&#13;
lapangan Yayasan Indocharis yang melakukan pemantauan terhadap eks klien.&#13;
Kredibilitas data diuji melalui triangulasi sumber dan analisis data menggunakan&#13;
model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses resiliensi&#13;
berlangsung melalui empat fase, yaitu deteriorating, yang ditandai dengan tekanan,&#13;
stigma, rasa rendah diri, dan kesulitan setelah kembali ke masyarakat; adapting, yang&#13;
ditandai dengan upaya menyesuaikan diri melalui pengendalian diri, perubahan&#13;
lingkungan, dan membangun kembali hubungan sosial; recovering, yang ditunjukkan&#13;
melalui kemampuan menjalani kehidupan secara lebih stabil; serta growing, yang&#13;
ditandai dengan perkembangan diri, peningkatan produktivitas, dan keterlibatan dalam&#13;
lingkungan sosial. Faktor yang mendorong resiliensi mencakup tujuh faktor menurut&#13;
Reivich dan Shatte, yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, analisis&#13;
penyebab masalah, empati, efikasi diri, dan reaching out, dengan regulasi emosi,&#13;
pengendalian impuls, efikasi diri, dan reaching out sebagai faktor yang paling&#13;
menonjol. Resiliensi juga diperkuat oleh dukungan keluarga, lingkungan sosial, serta&#13;
pendampingan pascarehabilitasi yang dilakukan Yayasan Indocharis melalui&#13;
pemantauan, komunikasi, dan kegiatan pemberdayaan.&#13;
Kata kunci: Resiliensi, Eks Klien NAPZA, Pascarehabilitasi, Yayasan Indocharis</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Kesejahteraan Sosial</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-08-14</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA;FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>