@phdthesis{digilib79692, month = {August}, title = {HADIS TENTANG KHOTBAH DAN KONTEKSTUALISASINYA DENGAN PUBLIC SPEAKING (STUDI MA?ANIL HADIS)}, school = {UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA}, author = {NIM.: 20105050046 Aep Saefulloh}, year = {2026}, note = {Dr. Muhammad Akmaluddin, M.S.I.}, keywords = {Public Speaking, Khotbah, Ma'ani al-Hadis, M. Syuhudi Ismail, Teori 3V}, url = {https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/79692/}, abstract = {Penelitian ini mengkaji kualitas dan kandungan hadis riwayat J{\=a}bir bin 'Abdill{\=a}h dalam {\d S}a{\d h}{\=i}{\d h} Muslim No. 867 tentang metode khotbah Rasulullah saw, serta kontekstualisasinya dengan konsep public speaking kontemporer. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih terbatasnya kajian sistematis yang menganalisis hadis-hadis khotbah Nabi saw melalui pendekatan ma'{\=a}n{\=i} al-{\d h}ad{\=i}{\.s}, sementara pembahasan public speaking selama ini lebih banyak dikembangkan dari perspektif komunikasi modern. Penelitian ini bertujuan menjawab tiga permasalahan: bagaimana kualitas hadis tentang khotbah, bagaimana pemahaman kandungannya, dan bagaimana kontekstualisasinya dengan praktik public speaking kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-deskriptif analitik. Kualitas hadis ditelusuri melalui takhr{\=i}j bi al-laf{\d z}, i'tib{\=a}r sanad, serta kajian rij{\=a}l al-{\d h}ad{\=i}{\.s} dan al-jar{\d h} wa al-ta'd{\=i}l. Adapun pemahaman kandungan hadis dianalisis melalui empat aspek ma'{\=a}n{\=i} al-{\d h}ad{\=i}{\.s} menurut M. Syuhudi Ismail yaitu bentuk redaksi matan, fungsi Nabi saw, asb{\=a}b al-wur{\=u}d, dan mukhtalif al-{\d h}ad{\=i}{\.s} yang kemudian dikontekstualisasikan dengan Teori 3V (visual, vokal, verbal) Albert Mehrabian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadis riwayat J{\=a}bir bin 'Abdill{\=a}h berkualitas {\d s}a{\d h}{\=i}{\d h}, mutta{\d s}il al-sanad, dan marf{\=u}', tergolong ghar{\=i}b pada tingkat sahabat, serta terhindar dari sy{\=a}{\.z} dan 'illat. Redaksi matannya tergolong bahasa tams{\=i}l (frasa ka'annahu mun{\.z}iru jaisy); Rasulullah saw berkedudukan sebagai penyampai risalah (tabl{\=i}gh), bukan dalam kapasitas politik atau militer; hadis ini tidak memiliki sebab kemunculan khusus, melainkan mencerminkan kebiasaan (hady) beliau dalam berkhotbah; dan tidak ditemukan pertentangan hakiki dengan hadis setema. Kontekstualisasi dengan Teori 3V menunjukkan ketiga dimensinya visual, vokal, dan verbal tercermin dalam praktik khotbah Rasulullah saw, meski berbeda landasan filosofis: teori modern berorientasi efektivitas komunikasi, sedangkan hadis berlandaskan kesungguhan moral dan tanggung jawab risalah. Dengan demikian, hadis ini menunjukkan keselarasan mendasar dengan prinsip-prinsip public speaking yang dirumuskan secara akademis pada masa kini, sekaligus menegaskan dimensi etis dan spiritual yang melampaui sekadar teknik efektivitas komunikasi.} }