TAREKAT SYÂDZILIYAH DAN PERALIHAN ABANGAN KE SANTRI DI PONDOK PESULUKAN TAREKAT AGUNG (PETA) TULUNGAGUNG PADA TAHUN 1940-1970

Harisatun Naila Rofiah, NIM. 15120009 (2020) TAREKAT SYÂDZILIYAH DAN PERALIHAN ABANGAN KE SANTRI DI PONDOK PESULUKAN TAREKAT AGUNG (PETA) TULUNGAGUNG PADA TAHUN 1940-1970. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (TAREKAT SYÂDZILIYAH DAN PERALIHAN ABANGAN KE SANTRI DI PONDOK PESULUKAN TAREKAT AGUNG (PETA) TULUNGAGUNG PADA TAHUN 1940-1970)
15120009_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (6MB) | Preview
[img] Text (TAREKAT SYÂDZILIYAH DAN PERALIHAN ABANGAN KE SANTRI DI PONDOK PESULUKAN TAREKAT AGUNG (PETA) TULUNGAGUNG PADA TAHUN 1940-1970)
15120009_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Abstract

Masyarakat Indonesia sebelum datangnya Islam telah memiliki tradisi yang mewakili keyakinan yang dikenal dengan istilah Animisme dan Dinamisme. Terjadinya asimilasi antara keyakinan (Animisme dan Dinamisme) dengan Islam membentuk corak keagamaan baru yakni masyarakat Islam Abangan. Melalui proses pewarisan yang panjang, di Tulungagung terbentuk pula varian keagamaan Islam abangan. Pondok PETA malalui Tarekat Syâdziliyah menjadi jembatan peralihan dari kaum abangan ke santri. Pendiri Pondok PETA sekaligus tokoh penyebar Tarekat Syâdziliyah yakni K.H. Mustaqim bin Muhammad Husain mempunyai peran penting dalam proses peralihan kaum abangan ke santri. Pembahasan dalam penelitian ini adalah peralihan kaum abangan ke santri melaui Tarekat Syâdziliyah di Pondok PETA. Penelitian Sejarah ini menggunakan pedekatan sosial-keagamaan. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis peralihan kaum abangan ke santri melalui Tarekat Syâdziliyah di Pondok PETA. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perubahan sosial yang dikemukakanoleh Selo Soermardjan yang menyatakan bahwa perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode sejarah yang meliputi :pengumpulan sumber (heuristic), kritik sumber, penafsiran dan historiografi (penulisan sejarah). Hasil penelitian ini sebagai berikut: Pertama,kondisi sosial keagamaan dan budaya masyarakat Tulungagung sebelum adanya Pondok PETA dapat dilihat dari ritual selametan kaum abangan yang lekat akan uborampe (sesajen), kepercayaan terhadap dukun dalam menyelesaikan segala persoalan hidup dan kepercayaan terhadap makhluk halus. Kedua,berdirinya Pondok PETA serta penyebaran Tarekat Syâdziliyah oleh K.H. Mustaqim di Tulungagung awalnya mengalami banyak penolakan (terutama dari pemerintah) karena notabene masyarakat Tulungagung adalah kaum abangan. Adanya tarekat Syâdziliyah menjadi jembatan peralihan kaum abangan ke santri. Ketiga, peralihan abangan ke santri dapat dilihat dari beberapa aspek yakni: sistem kepercayaan, ritual keagamaan dan sosial keagamannya.Adapun dari ketiga aspek tersebut menjadikan penganut Tarekat Syâdzilyah lebih disiplin dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah, ketaqwaan, dan berserah diri serta lebih baik dalam menyikap berbagai aktifitas kehidupan sosial.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Prof. Dr. H. Dudung Abdurahman, M.Hum.
Uncontrolled Keywords: Tarekat Syâdziliyah, Abangan-Santri, Peralihan
Subjects: Sejarah Peradaban / Kebudayaan Islam
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User: Drs. Mochammad Tantowi, M.Si.
Date Deposited: 11 Aug 2020 09:56
Last Modified: 11 Aug 2020 09:56
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/40050

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum