RESPONS ETIN ANWAR DAN NASARUDDIN UMAR ATAS PENCIPTAAN HAWA DALAM TRADISI KLASIK: Studi Tafsir QS. An-Nisa’ [4]: 1

Soraya Savana Zain, NIM.: 22105030127 (2025) RESPONS ETIN ANWAR DAN NASARUDDIN UMAR ATAS PENCIPTAAN HAWA DALAM TRADISI KLASIK: Studi Tafsir QS. An-Nisa’ [4]: 1. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (RESPONS ETIN ANWAR DAN NASARUDDIN UMAR ATAS PENCIPTAAN HAWA DALAM TRADISI KLASIK: Studi Tafsir QS. An-Nisa’ [4]: 1)
22105030127_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (4MB) | Preview
[img] Text (RESPONS ETIN ANWAR DAN NASARUDDIN UMAR ATAS PENCIPTAAN HAWA DALAM TRADISI KLASIK: Studi Tafsir QS. An-Nisa’ [4]: 1)
22105030127_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered users only

Download (8MB) | Request a copy

Abstract

Dalam tradisi tafsir klasik, penciptaan hawa dalam surah An-Nisā’ [4]:1 sering dipahami sebagai penciptaan sekunder dari tulang rusuk Adam, sehingga melahirkan konstruksi hierarkis dan melegitimasi ketidakadilan gender. Dinamika ini memunculkan kebutuhan akan pembacaan kritis terhadap bias patriarkal dalam tafsir. Etin Anwar dan Nasaruddin Umar hadir sebagai akademisi dan kritikus feminis Muslim yang menawarkan koreksi teoretis terhadap penafsiran konvensional tersebut. Melalui kajian mereka, isu-isu hierarki, relasi kuasa, dan bias penafsiran ditempatkan kembali dalam kerangka akademik yang menuntut rekonstruksi teologis yang lebih adil dan inklusif. Penelitian ini bertujuan menganalisis respons kedua tokoh tersebut terhadap penafsiran klasik mengenai penciptaan hawa dalam QS. An-Nisā’ [4]:1 serta membandingkan perbedaan pemikiran yang mereka ajarkan. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis berbasis studi pustaka dengan menelaah dua sumber primer, yaitu Jati Diri Wanita dalam Islam karya Etin Anwar dan Argumen Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an karya Nasaruddin Umar. Analisis dilakukan melalui pendekatan hermeneutis dengan menelusuri aspek historis, linguistik, dan teologis QS. An-Nisā’ [4]:1, serta membandingkan penafsiran kedua tokoh dengan literatur tafsir klasik dan kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan rekonstruksi makna ayat secara lebih komprehensif melalui pembacaan intertekstual dan analisis semantik terhadap konsep penciptaan manusia dalam tradisi tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya sama-sama menolak narasi penciptaan hawa yang bersifat hierarkis, Perbedaan pemikiran Etin Anwar dan Nasaruddin Umar terutama terletak pada orientasi epistemiknya. Nasaruddin menawarkan reinterpretasi yang bersifat evolutif dalam kerangka tafsir klasik. Dengan merujuk pada al-Razi dan al-Zamakhsyarī serta analisis linguistik, ia menegaskan bahwa nafs wāḥidah dan minhā pada QS. An-Nisā’ [4]:1 menunjuk pada “jenis yang sama”, bukan Adam dan Hawa secara literal, sehingga tidak mengandaikan hierarki gender. Sebaliknya, Etin Anwar menempuh pendekatan yang lebih revolusioner dengan menjadikan pengalaman perempuan sebagai pusat pembacaan. Melalui filsafat eksistensial, etika, dan kritik wacana, ia membongkar bias patriarkal dalam tradisi tafsir dan membangun kembali teologi penciptaan yang menegaskan kesetaraan ontologis laki-laki dan perempuan sebagai co-equal moral agents.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Nafisatul Mu'awwanah, M.A.
Uncontrolled Keywords: Tafsir Klasik-Kontemporer; Nasaruddin Umar; Etin Anwar; feminis muslim
Subjects: 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur’an dan Tafsir (S1)
Depositing User: S.Sos Sofwan Sofwan
Date Deposited: 05 Jul 2022 11:41
Last Modified: 14 Apr 2026 14:19
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/51614

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum