KONFLIK SULTAN HAMENGKU BUWONO II DENGAN PANGERAN NOTOKUSUMO DI KESULTANAN YOGYAKARTA 1808-1813 M

Jalu Sigit Pambudy, NIM.: 20101020001 (2024) KONFLIK SULTAN HAMENGKU BUWONO II DENGAN PANGERAN NOTOKUSUMO DI KESULTANAN YOGYAKARTA 1808-1813 M. Skripsi thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (KONFLIK SULTAN HAMENGKU BUWONO II DENGAN PANGERAN NOTOKUSUMO DI KESULTANAN YOGYAKARTA 1808-1813 M)
20101020001_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (2MB) | Preview
[img] Text (KONFLIK SULTAN HAMENGKU BUWONO II DENGAN PANGERAN NOTOKUSUMO DI KESULTANAN YOGYAKARTA 1808-1813 M)
20101020001_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

Sultan HB II dan Pangeran Notokusumo merupakan saudara tiri dengan satu ayah yaitu Sultan HB I. Sultan HB II dilantik menjadi Sultan di Kraton Yogyakarta pada tahun 1792 M. Semenjak itu, Pangeran Notokusumo mendampingi Sultan HB II sebagai salah seorang pejabat kraton. Hal ini juga ditegaskan dengan sumpah saling setia antar keduanya yang dilaksanakan saat Sultan HB I masih hidup. Gejolak antar keduanya dimulai saat Raden Ronggo melakukan pemberontakan terhadap pemerintah kolonial. Pangeran Notokusumo terseret dalam kasus ini dan dan menjadi tahanan pemerintah kolonial. Oleh karena posisi Sultan HB II yang terpojok setelah orang-orang kepercayaannya mulai tersingkir, maka sultan mulai menerima saran-saran dari Patih Danurejo II yang juga menyalahkan Pangeran Notokusumo atas pemberontakan Raden Ronggo yang merugikan pihak kraton dan pemerintah kolonial. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, oleh karenanya data yang digunakan oleh peneliti ialah sumber tertulis berupa buku, artikel, skripsi, atau dokumen lainnya. Adapun pendekatan yang dilakukan menggunakan pendekatan ilmu politik dan teori konflik. Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, akan tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah yang terdiri dari heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa konflik yang terjadi antara Sultan HB II dan Pangeran Notokusumo dilatarbelakangi oleh keberpihakan Pangeran Notokusumo terhadap Inggris serta ditambah oleh intrik-intrik yang dilakukan oleh Patih Danurejo II. Adapun keberpihakan Pangeran Notokusumo terhadap Inggris didasari oleh rasa hutang budi karena telah dibebaskan dari penjara di Batavia. Adapun intrik yang dilakukan oleh Patih Danurejo II disebabkan oleh wewenangnya sebagai patih digeser oleh Tumenggung Notodingrat yang merupakan anak dari Pangeran Notokusumo. Geger Sepehi menjadi final konflik dengan dibuangnya Sultan HB II di Penang serta diangkatnya Pangeran Notokusumo sebagai Sri Paku Alam I yang memerintah di Kadipaten Pakualaman.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information / Supervisor: Herawati, S.Ag., M.Pd.
Uncontrolled Keywords: Konflik, Kadipaten Pakualaman, Kraton Yogyakarta
Subjects: 900 Sejarah, Biografi, dan Geografi > 950 Sejarah Asia > 959.8 Sejarah Indonesia
Divisions: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya > Sejarah Kebudayaan Islam (S1)
Depositing User: Muh Khabib, SIP.
Date Deposited: 12 Jan 2026 09:58
Last Modified: 12 Jan 2026 09:58
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75071

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum