IMPLIKASI DISKURSUS PASCA PENEMBAKAN CHRISTCHURCH TERHADAP KEBIJAKAN IMIGRASI SELANDIA BARU DAN POPULASI IMIGRAN MUSLIM

Yudi Hasian Harahap, NIM.: 21200012096 (2026) IMPLIKASI DISKURSUS PASCA PENEMBAKAN CHRISTCHURCH TERHADAP KEBIJAKAN IMIGRASI SELANDIA BARU DAN POPULASI IMIGRAN MUSLIM. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img]
Preview
Text (IMPLIKASI DISKURSUS PASCA PENEMBAKAN CHRISTCHURCH TERHADAP KEBIJAKAN IMIGRASI SELANDIA BARU DAN POPULASI IMIGRAN MUSLIM)
21200012096_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (3MB) | Preview
[img] Text (IMPLIKASI DISKURSUS PASCA PENEMBAKAN CHRISTCHURCH TERHADAP KEBIJAKAN IMIGRASI SELANDIA BARU DAN POPULASI IMIGRAN MUSLIM)
21200012096_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

Penembakan massal di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret 2019 merupakan tindakan terorisme berbasis supremasi kulit putih yang menandai momen krusial dalam sejarah sosial politik Selandia Baru. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan trauma nasional, tetapi juga memicu penataan ulang cara negara memaknai isu keamanan, imigrasi, dan keberagaman agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan Analisis Wacana Foucauldian. Data dikumpulkan melalui telaah dokumen resmi negara, termasuk pidato dan pernyataan Perdana Menteri Jacinda Ardern, laporan Royal Commission of Inquiry, regulasi imigrasi, serta kebijakan keamanan yang diterbitkan setelah tragedi Christchurch. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasca tragedi Christchurch, negara Selandia Baru membangun narasi inklusivitas dan solidaritas melalui slogan “They Are Us” yang menegaskan komunitas Muslim sebagai bagian dari masyarakat nasional. Namun, di balik narasi tersebut, pendekatan keamanan tetap menjadi kerangka utama dalam perumusan kebijakan imigrasi, terutama melalui penguatan mekanisme pengawasan dan penilaian karakter terhadap imigran. Kebijakan imigrasi pasca Christchurch tidak hanya dijalankan sebagai perangkat administratif, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pengaturan yang membedakan antara kelompok yang dianggap memenuhi standar keamanan dan kelompok yang dipandang berpotensi berisiko. Kondisi ini melahirkan situasi paradoks bagi imigran Muslim, di mana mereka diakui secara simbolik sebagai bagian dari komunitas nasional, tetapi tetap berada dalam ruang pengawasan dan pendisiplinan negara. Kata kunci: Christchurch, diskursus, kebijakan imigrasi, Muslim

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Dr. Hj. Inayah Rohmaniyah, S.Ag., M.Hum., M.A
Uncontrolled Keywords: Christchurch, diskursus, kebijakan imigrasi, Muslim
Subjects: 300 Ilmu Sosial > 320 Ilmu Politik > 320.6 Kebijakan Publik
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Interdisciplinary Islamic Studies > Islam, Pembangunan dan Kebijakan Publik
Depositing User: S.Sos Sofwan Sofwan
Date Deposited: 03 Feb 2026 14:04
Last Modified: 03 Feb 2026 14:04
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75409

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum