Tsaqifa Aulya Afifah, NIM.: 23200012067 (2026) HERMENEUTIKA AL-TABARI Pemahaman Teks, Relasi Antar-Teks, & Teks Isra’iliyyat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.
|
Text (HERMENEUTIKA AL-TABARI Pemahaman Teks, Relasi Antar-Teks, & Teks Isra’īliyyat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan)
23200012067_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version Download (4MB) |
|
|
Text (HERMENEUTIKA AL-TABARI Pemahaman Teks, Relasi Antar-Teks, & Teks Isra’īliyyat dalam Tafsir Jami’ Al-Bayan)
23200012067_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf Restricted to Registered users only Download (6MB) | Request a copy |
Abstract
Salah satu pertanyaan yang selalu menarik dalam membaca tafsir klasik ialah bagaimana para mufassir awal bekerja pada masa ketika teori hermeneutika belum dirumuskan secara formal. Para penafsir generasi awal memang tidak meninggalkan penjelasan metodologis secara eksplisit, akan tetapi, mereka meninggalkan pola-pola interpretasi yang dapat dilacak melalui cara mereka menyusun riwayat, membangun argumen, dan merangkai makna di dalam ayat. Karena itu, untuk menelusuri karya al-Ṭabarī, berarti peneliti harus memasuki sebuah ruang tafsir yang tidak hanya berisi penjelasan teks, tetapi juga memperlihatkan mekanisme penafsiran yang bergerak di baliknya. Muhammad ibn Jarīr al-Ṭabarī kerap dipahami oleh sarjana Barat, seperti Walid Saleh, sebagai mufassir ensiklopedis yang menghimpun seluruh riwayat yang tersedia tanpa membedakan asal-usulnya, sehingga penggunaan Isrā’īliyyāt dalam tafsirnya pun menuai kritik, seperti hal nya di kritik oleh Ibn Katsir. Namun, anggapan ini patut dipertanyakan, atau justru mencerminkan tujuan metodologis tertentu yang melandasi penyusunan tafsirnya, sehingga keberadaan riwayat-riwayat tersebut harus dibaca dalam kerangka epistemologis dan historiografis yang lebih luas. Teori intertekstualitas Julia Kristeva menjadi pemandu sekaligus mitra berpikir dalam mengurai bagaimana teks dan relasi antar-teks berperan dalam pembentukan makna teks. Kerangka ini diterapkan secara khusus pada penafsiran tema penciptaan awal, sebuah panggung kosmik sebelum seluruh episode kehidupan manusia dimulai yang mencakup penciptaan kosmos, Adam–Hawa dan juga kisah umat terdahulu yang difokuskan pada kajian Nabi Ibrahim. Pada akhirnya, tesis ini sampai pada kesimpulan bahwa penafsirannya memuat tiga corak tradisi yang muncul secara konsisten, yakni gaya biblicizing, gaya tradisional, dan gaya intratekstual. Melalui identifikasi atas tiga corak ini, pembacaan terhadap Jāmi‘ al-Bayān membuka pemahaman yang lebih jernih tentang bagaimana konsep teks, relasi antar-teks, dan pemaknaan Isrā’īliyyāt bekerja dalam konstruksi tafsir al-Ṭabarī. Pertama, konsep “teks” dalam kerangka al-Ṭabarī tampak berkembang sebagai dialog antara wahyu dan pengetahuan tradisional yang hidup di tengah masyarakat. Teks Al-Qur’an menjadi horizon utama yang membingkai keseluruhan kisah penafsiran. Kedua, dalam cara kerjanya, al-Tabari menggunakan cara kerja konsep relasi antar-teks yang dioperasikan menjadi dua mekanisme. (1) intertekstualitas, yakni ketika tafsirnya bersentuhan dengan tradisi di luar Al-Qur’an, baik melalui kisah-kisah Ahl al-Kitāb yang masuk melalui jalur Isrā’īliyyāt maupun melalui unsur-unsur budaya Arab yang hidup pada masanya. Pada wilayah inilah tampak kecenderungan biblicizing dan gaya tradisional yang sering dicatat para peneliti. (2) intratekstualitas, yaitu ketika al-Ṭabarī menautkan ayat dengan ayat lain atau menghubungkan satu riwayat dengan riwayat lainnya, sehingga membentuk jejaring makna internal yang mengokohkan struktur argumentasi dalam tafsirnya. Ketiga, Isra’iliyyat dalam tafsir al-Ṭabari tidak dapat disederhanakan sebagaimana anggapan Walid Saleh yang melihat al-Ṭabari semata sebagai mufassir ensiklopedis yang menyajikan riwayat tanpa eliminasi hingga kemudian dikritik oleh Ibn Kathir. Bagi al-Ṭabari, Isra’iliyyat merupakan riwayat yang bersumber dari Ahl al-Kitāb yang telah memeluk Islam, didengar secara oral, lalu ditransmisikan melalui sanad, sebuah praktik yang tidak terlepas dari konteks kelahirannya pada masa supremasi Ahl al-Ḥadīth. Proses ini menjadikan narasi-narasi tersebut tidak hadir sebagai kutipan langsung dari tradisi Ahl al-Kitāb, melainkan sebagai bagian dari sirkulasi riwayat dalam komunitas Islam awal. Dalam kerangka hermeneutis al-Ṭabarī, sumber-sumber ini berfungsi sebagai perangkat bantu penafsiran untuk membangun struktur penjelasan yang utuh atas ayat-ayat Qur’an. Selama isi cerita tidak bertentangan dengan tauhid dan tidak mengubah makna pokok ayat, al-Ṭabarī memanfaatkannya sebagai penjelas tambahan. Maka dari itu, dalam Tafsir Jāmi‘ al-Bayan, khususnya dalam narasi penciptaan awal dan kisah Nabi Ibrahim, penggunaan Isra’iliyyat oleh al-Ṭabari pada dasarnya berfungsi sebagai bayānī, yang mana bercabang ke dalam tiga fungsi: (1) Isra’iliyyat yang berfungsi sebagai tambahan penjelas dalam Al-Qur’an (Penciptaan Kosmos dan Adam); (2) Isra’iliyyat yang berfungsi menawarkan rangkaian beda versi dari Al-Qur’an (Penciptaan Hawa); (3) Isra’iliyyat yang berfungsi untuk memuat kisah yang tidak ada dalam Al-Qur’an (Kisah Nabi Ibrahim). Dengan cara inilah Isrā’īliyyāt diposisikan sebagai unsur yang hidup dan berfungsi dalam ruang penafsiran, disertai dengan selektifitas yang sesuai dengan ajaran Islam dan tidak keluar dari structural makna; bukan sebagai elemen asing yang disisipkan tanpa kritik.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Additional Information / Supervisor: | Dr. Munirul Ikhwan, Lc., MA. |
| Uncontrolled Keywords: | Isra’iliyyat, Jami‘ al-Bayan; relasi antar-teks; Tafsir Al-Tabari |
| Subjects: | 200 Agama > 297 Agama Islam > 297.1226 Tafsir Al-Qur'an, Ilmu Tafsir |
| Divisions: | Pascasarjana > Thesis > Hermeneutika Al Qur'an |
| Depositing User: | Muchti Nurhidaya [muchti.nurhidaya@uin-suka.ac.id] |
| Date Deposited: | 04 Mar 2026 10:17 |
| Last Modified: | 04 Mar 2026 10:17 |
| URI: | http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75687 |
Share this knowledge with your friends :
Actions (login required)
![]() |
View Item |
