INTERTEKSTUALITAS KISAH BANJIR NUH DALAM TERJEMAH AL-QUR'AN DAN TERJEMAH WEDA

Mizan Alfath, NIM.: 23205032001 (2025) INTERTEKSTUALITAS KISAH BANJIR NUH DALAM TERJEMAH AL-QUR'AN DAN TERJEMAH WEDA. Masters thesis, UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA.

[img] Text (INTERTEKSTUALITAS KISAH BANJIR NUH DALAM TERJEMAH AL-QUR'AN DAN TERJEMAH WEDA)
23205032001_BAB-I_IV-atau-V_DAFTAR-PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (1MB)
[img] Text (INTERTEKSTUALITAS KISAH BANJIR NUH DALAM TERJEMAH AL-QUR'AN DAN TERJEMAH WEDA)
23205032001_BAB-II_sampai_SEBELUM-BAB-TERAKHIR.pdf
Restricted to Registered users only

Download (2MB) | Request a copy

Abstract

Kisah banjir besar merupakan narasi universal yang terekam kuat dalam memori kolektif peradaban manusia, baik dalam tradisi Semitik melalui al-Qur’an maupun tradisi Indo-Arya melalui Weda. Namun, kajian akademis mengenai hal ini selama ini cenderung terpusat pada perbandingan intra-Semitik, khususnya antara al-Qur’an dan Alkitab, sehingga mengabaikan potensi dialog lintas peradaban yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan literatur akademik tersebut dengan menelusuri relasi intertekstual antara kisah banjir Nabi Nuh dalam al-Qur’an dan kisah banjir Manu dalam Weda. Studi ini berupaya mengungkap bagaimana kedua kitab suci dari matriks peradaban yang berbeda ini mentransformasi motif naratif yang sama untuk membangun bangunan teologi yang unik sesuai konteks sosio-historisnya, serta memperluas cakupan kajian dari wilayah Semitik hingga ke tradisi Indo-Arya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif berbasis kepustakaan (library research) yang menerapkan pendekatan historis-filosofis serta kerangka teori intertekstualitas Angelika Neuwirth. Teori ini memposisikan al-Qur’an bukan sebagai teks yang terisolasi, melainkan sebagai “suara baru” atau teks polifonik yang secara aktif berdialog, merespons, dan mengoreksi narasi-narasi keagamaan yang beredar di dunia Abad Kuno Akhir (Late Antiquity). Melalui metode ini, data dianalisis dengan menyejajarkan elemen naratif dan linguistik dari kedua tradisi, serta melacak jejak transmisi budaya yang memungkinkan pertemuan gagasan antara dunia Semitik dan Indo-Arya, untuk kemudian membaca bagaimana al-Qur’an melakukan re-artikulasi teologis atas mitos banjir tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat paronimi linguistik antara “Nuh” dan “Manu” serta kesamaan struktur naratif, terdapat divergensi teologis yang fundamental. Tradisi Weda membingkai banjir sebagai peristiwa siklus kosmik (pralaya) yang amoral dan tak terhindarkan untuk merekonstruksi tatanan kehidupan, serta adanya intervensi dewa yang imanen (avatara). Sebaliknya, al-Qur’an melakukan transformasi radikal dengan mengubah arketipe banjir menjadi peristiwa historis-linear yang bersifat retributif sebagai konsekuensi penolakan terhadap tauhid. Lebih jauh, al-Qur’an mendekonstruksi validitas ikatan darah yang diagungkan dalam tradisi kuno melalui penenggelaman putra Nuh, menegaskan bahwa keselamatan semata-mata ditentukan oleh keimanan dan bukan oleh garis keturunan, sehingga mengubah fungsi narasi dari pelestarian tatanan lama menjadi instrumen pembentukan komunitas berbasis iman.

Item Type: Thesis (Masters)
Additional Information / Supervisor: Dr. Dian Nur Anna, S.Ag., M.A.
Uncontrolled Keywords: Kisah Banjir Nuh; Weda; al-Qur’an; Banjir Manu
Subjects: Tafsir Al-Qur'an > Kisah dalam Al-Qur'an
Tafsir Al-Qur'an > Sejarah Nabi dan Rasul
Divisions: Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam > Ilmu Alqur'an dan Tafsir (S2)
Depositing User: Muchti Nurhidaya [muchti.nurhidaya@uin-suka.ac.id]
Date Deposited: 06 Mar 2026 10:59
Last Modified: 06 Mar 2026 10:59
URI: http://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/75698

Share this knowledge with your friends :

Actions (login required)

View Item View Item
Chat Kak Imum